
malangtoday.id – Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Edukasi Sejahtera, Tamsil Linrung, menyampaikan permohonan maaf kepada siswa dan keluarga yang terdampak dugaan bullying serta pelecehan seksual di lingkungan Sekolah Insan Cendekia Madani (ICM), Tangerang Selatan.
Tamsil menyampaikan sikap tersebut setelah masyarakat ramai membicarakan dua persoalan yang melibatkan siswa ICM. Satu persoalan berkaitan dengan dugaan perundungan dalam kegiatan Pramuka. Persoalan lain berkaitan dengan dugaan pelecehan seksual yang melibatkan seorang guru dan seorang siswa.
Tamsil menyatakan keprihatinan atas kedua peristiwa tersebut. Ia juga menegaskan komitmen yayasan untuk memberikan perhatian kepada korban dan keluarganya.
Pendiri Yayasan ICM Sampaikan Permohonan Maaf
Tamsil mengatakan bahwa sekolah harus memberikan rasa aman kepada setiap anak. Ia menilai tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan yang menimbulkan luka fisik, tekanan psikologis, maupun trauma pada siswa.
Tamsil juga mengaku sudah berkomunikasi dengan orang tua siswa yang mengalami dugaan perundungan. Ia menyampaikan permohonan maaf dan dukungan moral kepada keluarga tersebut.
Menurut Tamsil, pihak sekolah harus menghadapi persoalan secara terbuka. Sekolah juga perlu memperbaiki sistem perlindungan anak agar kejadian serupa tidak kembali muncul.
Ia menegaskan bahwa ICM tidak memberi ruang bagi tindakan yang mengancam keselamatan dan martabat anak.
Dugaan Pelecehan Seksual Masuk Proses Hukum
Kasus dugaan pelecehan seksual di ICM kini masuk dalam proses penyelidikan kepolisian. Kuasa hukum korban telah membuat laporan kepada Polres Tangerang Selatan pada 22 September 2026.
Polisi menerima laporan tersebut melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satreskrim Polres Tangerang Selatan. Polisi kemudian meminta keterangan dari korban dan sejumlah saksi untuk mengumpulkan informasi terkait perkara tersebut.
Kuasa hukum korban, Muhammad Fadhli, menyebut dugaan tindakan tersebut berlangsung dalam rentang waktu 2023 hingga 2026. Menurut keterangan kuasa hukum, terduga pelaku pernah menjadi guru korban.
Keluarga korban juga menyerahkan sejumlah bukti kepada polisi. Bukti tersebut antara lain hasil pemeriksaan psikologis korban dan komunikasi yang menurut pihak keluarga berkaitan dengan dugaan peristiwa tersebut.
Proses hukum masih berjalan. Karena itu, publik perlu menunggu hasil pemeriksaan aparat sebelum menarik kesimpulan mengenai pihak yang bertanggung jawab secara hukum.
ICM Nonaktifkan Guru yang Tersangkut Laporan
Pihak ICM sebelumnya mengambil langkah administratif terhadap seorang guru setelah menerima laporan dugaan pelecehan seksual terhadap murid pada 24 Agustus 2026.
ICM menonaktifkan guru tersebut sejak 25 Agustus 2026. Pihak sekolah menjelaskan bahwa langkah itu bertujuan menjaga keamanan dan kenyamanan siswa sekaligus memberi ruang kepada proses pemeriksaan hukum.
ICM juga menegaskan bahwa keputusan administratif tersebut tidak menentukan kesalahan hukum guru yang bersangkutan. Aparat penegak hukum tetap memiliki kewenangan untuk memeriksa perkara dan menentukan proses selanjutnya.
Langkah ini menunjukkan bahwa sekolah mengambil tindakan administratif sambil menunggu proses hukum berjalan.
Dugaan Bullying Muncul dalam Kegiatan Pramuka
Selain dugaan pelecehan seksual, ICM juga menghadapi persoalan bullying yang muncul dalam kegiatan Pramuka pada akhir Agustus 2026.
Pihak sekolah menyatakan sudah melakukan pemeriksaan internal terhadap persoalan tersebut. Manajemen ICM juga memberikan sanksi kepada siswa dan pembina yang berkaitan dengan peristiwa itu.
Sekolah kemudian memfasilitasi komunikasi antara orang tua siswa dan melaporkan persoalan tersebut kepada Pokja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Tamsil mengatakan pihak yayasan memahami kekhawatiran keluarga korban. Ia juga meminta orang tua ikut mengawasi perubahan yang dilakukan sekolah.
Menurut Tamsil, sekolah perlu membangun komunikasi yang lebih kuat dengan keluarga siswa. Komunikasi tersebut dapat membantu sekolah mengenali persoalan lebih cepat dan mengambil langkah perlindungan secara tepat.
Yayasan Tegaskan Perlakuan Setara bagi Semua Siswa
Tamsil juga menanggapi pembicaraan publik mengenai latar belakang keluarga sejumlah siswa yang muncul dalam pemberitaan dan media sosial.
Ia menegaskan bahwa sekolah harus memperlakukan semua siswa dengan aturan yang sama. Menurut Tamsil, latar belakang orang tua tidak boleh memengaruhi cara sekolah menangani sebuah persoalan.
Tamsil juga meminta masyarakat tidak menyebarkan identitas anak yang berkaitan dengan kasus tersebut. Ia mengingatkan bahwa anak-anak membutuhkan perlindungan privasi agar proses pemulihan tidak semakin berat.
Pihak sekolah juga meminta masyarakat menghormati proses hukum. Publik dapat mengikuti perkembangan perkara melalui informasi resmi dari pihak berwenang.
Sekolah Siapkan Langkah Pembenahan
Yayasan Edukasi Sejahtera menyampaikan sejumlah langkah untuk memperkuat sistem perlindungan anak di ICM.
Langkah pertama menyasar pemulihan korban. Yayasan menyatakan komitmen memberikan pendampingan dan dukungan yang diperlukan korban serta keluarga.
Langkah kedua menyasar evaluasi sistem keamanan dan prosedur sekolah. Yayasan ingin mengevaluasi fasilitas pengamanan serta prosedur pembinaan siswa, terutama dalam lingkungan sekolah berasrama.
Langkah ketiga menyasar kegiatan siswa. Sekolah perlu memperkuat sistem pendampingan agar siswa memperoleh pengawasan yang memadai ketika mengikuti kegiatan di luar kelas.
Langkah keempat menyasar pengawasan bersama. Yayasan berencana melibatkan orang tua dan pemerintah dalam forum pengawasan untuk memperkuat perlindungan siswa.
ICM Diminta Perkuat Perlindungan Anak
Kasus ini kembali menunjukkan pentingnya sistem perlindungan anak dalam lingkungan pendidikan. Sekolah tidak hanya perlu menerapkan aturan, tetapi juga harus memastikan setiap siswa memiliki ruang aman untuk menyampaikan keluhan.
Orang tua juga memiliki peran penting dalam proses tersebut. Komunikasi antara keluarga dan sekolah dapat membantu mendeteksi perubahan perilaku anak serta persoalan yang mungkin muncul selama kegiatan pendidikan.
ICM sendiri menyatakan akan melakukan evaluasi dan memperkuat langkah pencegahan. Sekolah juga menyatakan dukungan terhadap proses hukum yang berjalan.
Tamsil meminta orang tua tidak hanya melihat pernyataan yayasan. Ia mengajak orang tua mengawasi langsung perubahan yang dilakukan sekolah.
Proses Hukum Masih Berjalan
Polisi masih mengumpulkan keterangan dari korban dan saksi dalam perkara dugaan pelecehan seksual. Karena proses tersebut masih berlangsung, publik perlu menunggu perkembangan resmi dari kepolisian.
Pada saat yang sama, pihak ICM menyatakan dukungan terhadap proses hukum dan menolak segala bentuk intervensi. Yayasan juga menegaskan komitmen untuk memberikan perlakuan yang sama kepada seluruh siswa tanpa melihat latar belakang keluarga.
Kasus dugaan bullying dan pelecehan seksual tersebut kini menjadi perhatian publik. Penanganan korban, perlindungan identitas anak, evaluasi sistem sekolah, serta proses hukum menjadi bagian penting dalam perkembangan perkara ini.
Masyarakat juga perlu menghindari penyebaran identitas anak yang terlibat. Perlindungan terhadap korban dan anak-anak lain harus menjadi perhatian utama selama proses hukum dan evaluasi sekolah terus berjalan.




