
malangtoday.id – Polresta Bandara Soekarno-Hatta bersama Bea Cukai kembali membongkar jaringan narkotika berskala besar. Aparat menangkap 14 tersangka dan mengungkap tiga laboratorium gelap yang memproduksi narkotika jenis etomidate.
Polisi menjalankan rangkaian operasi sejak Juli hingga September 2026. Mereka mengembangkan enam laporan polisi untuk menelusuri jaringan nasional dan internasional tersebut.
Dari total 14 tersangka, tujuh orang merupakan warga negara Indonesia. Tujuh lainnya berasal dari India dan Singapura.
Polisi juga menyita etomidate cair, etomidate berbentuk bubuk, ratusan cartridge siap edar, serta sabu dalam jumlah kilogram.
Kapolresta Bandara Soekarno-Hatta Kombes Pol Wisnu Wardana menyebut pihaknya memilih langkah langsung ke hulu jaringan. Polisi ingin menghentikan produksi sebelum pelaku mengedarkan narkotika lebih luas.
Polisi Tangkap 14 Tersangka
Operasi gabungan Polresta Bandara Soekarno-Hatta dan Bea Cukai menghasilkan penangkapan 11 tersangka.
Empat WNI berinisial TR, MH, TB, dan RN masuk dalam kelompok tersebut.
Polisi juga menangkap enam warga negara India berinisial SSM, MKS, SMAS, RK, SPMA, dan SNK.
Satu warga negara Singapura berinisial LHM turut masuk dalam daftar tersangka.
Satuan Narkoba Polresta Bandara Soekarno-Hatta kemudian mengembangkan kasus tersebut dan menangkap tiga tersangka lain.
Ketiganya merupakan WNI berinisial DAD alias A, MR, dan IAPY alias I.
Pengembangan itu membawa polisi menuju jaringan sabu dan produksi etomidate dalam skala rumahan.
Tiga Laboratorium Gelap Beroperasi di Jakarta dan Sidoarjo
Polisi tidak berhenti pada penangkapan kurir atau pengedar.
Tim kemudian menelusuri lokasi produksi dan menemukan tiga clandestine laboratory atau laboratorium gelap.
Dua lokasi berada di Jakarta.
Satu laboratorium beroperasi di kawasan perumahan Jakarta Utara. Polisi juga menemukan satu lokasi lain di sebuah apartemen kawasan Pantai Indah Kapuk.
Jaringan tersebut juga mengoperasikan satu rumah di Sidoarjo, Jawa Timur.
Pelaku menggunakan lokasi tersebut sebagai tempat mengolah etomidate sebelum memasukkannya ke cartridge.
Temuan laboratorium menunjukkan bahwa jaringan tidak hanya mengandalkan penyelundupan produk jadi.
Mereka juga membawa bahan baku dan memprosesnya di Indonesia.
Polisi Temukan Ribuan Cartridge Kosong
Salah satu pengungkapan terjadi pada 10 Juli 2026.
Polisi bersama Bea Cukai mendatangi sebuah rumah di kawasan PIK, Jakarta Utara.
Petugas menemukan tersangka LHM ketika ia memproses cairan etomidate menggunakan kompor dan air panas.
Polisi juga menemukan berbagai peralatan produksi.
Barang tersebut mencakup mesin manual untuk mengisi cartridge, sekitar 5.000 cartridge kosong, penutup, karet pelindung, panci, teko, corong, dan gelas ukur.
Petugas juga menemukan wadah yang pelaku gunakan untuk menyimpan bahan kimia.
Peralatan tersebut menunjukkan pola produksi yang sudah cukup terorganisasi.
Jaringan dapat mengolah bahan dalam jumlah besar sebelum memasukkan hasilnya ke cartridge siap edar.
Belasan Kilogram Etomidate Ikut Disita
Jumlah barang bukti yang polisi sita juga cukup besar.
Dalam rekapitulasi pengungkapan, aparat mengamankan sekitar 3,029 kilogram etomidate cair.
Polisi juga menyita sekitar 13,110 kilogram etomidate berbentuk bubuk.
Selain itu, tim menemukan 249 cartridge yang sudah berisi etomidate dan siap beredar.
Polisi juga menyita sabu sekitar 2,25 kilogram.
Aparat memperkirakan seluruh bahan etomidate tersebut dapat menghasilkan puluhan ribu cartridge.
Jumlah ini menunjukkan besarnya potensi distribusi apabila polisi tidak memutus jaringan lebih awal.
Nilai Barang Bukti Capai Sekitar Rp145 Miliar
Polisi memperkirakan nilai ekonomi seluruh barang bukti mencapai sekitar Rp145,56 miliar.
Angka tersebut berasal dari estimasi jumlah etomidate siap edar serta sabu yang tim temukan.
Aparat memperkirakan bahan yang mereka sita dapat menghasilkan sekitar 23.817 produk etomidate siap edar.
Polisi juga menghitung potensi dampaknya terhadap masyarakat.
Menurut estimasi kepolisian, pengungkapan tersebut berpotensi mencegah penyalahgunaan narkotika terhadap lebih dari 100 ribu orang.
Perhitungan itu menegaskan skala jaringan yang aparat bongkar.
Jaringan Gunakan Jalur Internasional
Komposisi tersangka menunjukkan adanya keterlibatan lintas negara.
Polisi menangkap enam warga India dan satu warga Singapura dalam pengungkapan tersebut.
Bandara Soekarno-Hatta memiliki posisi penting sebagai pintu masuk internasional.
Karena itu, Polresta Bandara Soekarno-Hatta dan Bea Cukai terus memantau pergerakan penumpang serta barang.
Kerja sama kedua instansi membantu aparat membaca pola penyelundupan.
Polisi juga menggunakan hasil pemeriksaan awal untuk mengembangkan kasus menuju lokasi lain.
Dari sinilah tim menemukan jaringan yang lebih luas dan laboratorium gelap.
Etomidate Jadi Perhatian Aparat
Etomidate menjadi salah satu barang utama dalam pengungkapan ini.
Dalam penggunaan medis, etomidate memiliki fungsi tertentu dalam prosedur anestesi.
Namun, penyalahgunaan zat tersebut melalui cairan vape menimbulkan risiko kesehatan serius.
Aparat kini menempatkan peredaran etomidate sebagai salah satu ancaman yang perlu mereka awasi dengan ketat.
Jaringan narkotika memanfaatkan cartridge vape karena bentuknya relatif kecil dan mudah pelaku distribusikan.
Produk tersebut juga dapat menyamarkan kandungan berbahaya di balik tampilan yang menyerupai produk vape biasa.
Karena itu, aparat terus memperkuat pengawasan terhadap barang bawaan penumpang dan jalur distribusi lainnya.
Operasi Berjalan Selama Tiga Bulan
Polisi menjalankan rangkaian penyelidikan dari Juli hingga September 2026.
Enam laporan polisi menjadi dasar pengembangan kasus.
Empat laporan berasal dari operasi gabungan bersama Bea Cukai.
Dua laporan lainnya berasal dari pengembangan internal Satuan Narkoba Polresta Bandara Soekarno-Hatta.
Pola tersebut menunjukkan bahwa aparat tidak menangani setiap penangkapan secara terpisah.
Mereka menghubungkan satu kasus dengan kasus lain.
Strategi tersebut membantu polisi memetakan jaringan yang lebih luas.
Dari kurir, aparat bergerak menuju pengolah dan lokasi produksi.
Polisi Terapkan Strategi Serang dari Hulu
Kapolresta Bandara Soekarno-Hatta menjelaskan bahwa tim menggunakan pendekatan pre-emptive strike.
Strategi ini menargetkan sumber produksi dan distribusi.
Polisi tidak ingin hanya menangkap pengguna atau pengedar kecil.
Mereka ingin menghentikan aliran narkotika sejak dari pangkal jaringan.
Pendekatan tersebut menghasilkan temuan tiga laboratorium gelap.
Jika aparat hanya berhenti pada penangkapan kurir, fasilitas produksi kemungkinan masih dapat beroperasi.
Karena itu, pengembangan kasus memainkan peran sangat penting.
Ancaman Hukuman Berat Menanti Para Tersangka
Polisi menjerat para tersangka menggunakan ketentuan dalam Undang-Undang Narkotika serta aturan pidana yang berkaitan.
Ancaman hukuman berbeda sesuai peran dan barang bukti.
Sejumlah pasal membuka kemungkinan hukuman penjara dalam waktu panjang.
Untuk perkara dengan skala besar dan kondisi tertentu, ancaman hukuman dapat mencapai pidana mati.
Penyidik masih mendalami hubungan antartersangka.
Polisi juga menelusuri pihak lain yang mungkin terlibat dalam pendanaan, produksi, pengiriman, atau distribusi.
Bandara Soekarno-Hatta Tetap Jadi Titik Pengawasan Penting
Kasus ini kembali menunjukkan pentingnya pengawasan ketat di Bandara Soekarno-Hatta.
Jaringan internasional dapat memanfaatkan jalur udara untuk membawa bahan atau produk narkotika.
Namun, pengungkapan kali ini juga menunjukkan perubahan pola.
Pelaku tidak hanya membawa barang jadi.
Mereka dapat memasukkan bahan tertentu lalu mengolahnya di dalam negeri.
Pola tersebut menuntut aparat memperluas fokus.
Pengawasan bandara perlu berjalan bersama penyelidikan di luar kawasan bandara.
Kerja sama kepolisian dan Bea Cukai menjadi kunci untuk menelusuri rantai tersebut.
Polisi Minta Masyarakat Ikut Berperan
Polresta Bandara Soekarno-Hatta juga mengajak masyarakat menjauhi narkotika.
Polisi mengingatkan bahwa penyalahgunaan narkoba dapat merusak kesehatan, keluarga, dan masa depan.
Masyarakat juga dapat membantu aparat dengan melaporkan aktivitas yang mencurigakan.
Lingkungan perumahan dan apartemen dapat menjadi lokasi yang jaringan gunakan untuk menjalankan produksi tersembunyi.
Karena itu, kewaspadaan masyarakat memiliki peran penting.
Laporan awal dapat membantu aparat menemukan aktivitas ilegal lebih cepat.
Pengungkapan Besar Buka Modus Baru Jaringan Narkotika
Pengungkapan 14 tersangka ini tidak hanya mencatat penangkapan dalam jumlah besar.
Kasus tersebut juga membuka gambaran tentang cara jaringan narkotika bekerja.
Pelaku melibatkan warga dari beberapa negara.
Mereka menggunakan laboratorium tersembunyi di kawasan perumahan dan apartemen.
Jaringan juga memproduksi etomidate dalam cartridge yang siap mereka distribusikan.
Polisi berhasil menemukan tiga lokasi produksi serta menyita belasan kilogram bahan sebelum jaringan menyebarkannya lebih luas.
Pengungkapan ini menunjukkan bahwa peredaran narkotika terus mengembangkan pola baru.
Aparat juga perlu terus menyesuaikan strategi.
Kerja sama Polresta Bandara Soekarno-Hatta dan Bea Cukai menjadi salah satu faktor penting dalam membongkar jaringan tersebut.
Polisi kini terus mengembangkan perkara untuk mencari kemungkinan tersangka dan jaringan lain.
Dengan pengungkapan ini, aparat berharap dapat memutus rantai produksi sekaligus mencegah peredaran narkotika dalam jumlah besar di Indonesia.




