
malangtoday.id – PT Geo Dipa Energi (Persero) mendapat Penyertaan Modal Negara atau PMN sekitar Rp1,3 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dana tersebut mendukung pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi atau PLTP yang saat ini memasuki tahap konstruksi.
Direktur Utama Geo Dipa Energi Yudistian Yunis menjelaskan bahwa pemerintah memberikan dana tersebut sebagai ekuitas perusahaan. Geo Dipa kemudian menggunakan ekuitas itu untuk mendampingi pinjaman dari Asian Development Bank atau ADB.
Skema tersebut membantu perusahaan memenuhi kebutuhan modal dalam pembangunan proyek panas bumi.
PMN Menjadi Ekuitas Pendamping Pinjaman ADB
Geo Dipa membutuhkan modal sendiri ketika perusahaan menggunakan pembiayaan dari lembaga keuangan. Pemerintah kemudian memberikan PMN untuk memenuhi kebutuhan ekuitas tersebut.
Skema ini membuat pembiayaan proyek berjalan melalui kombinasi modal perusahaan dan pinjaman ADB.
Geo Dipa tidak menjadikan PMN sebagai satu-satunya sumber dana pembangunan. Perusahaan juga mengandalkan pembiayaan eksternal untuk memenuhi kebutuhan investasi proyek.
Langkah tersebut menunjukkan upaya pemerintah membangun model pembiayaan energi terbarukan dengan memanfaatkan peran BUMN.
Geo Dipa Sedang Membangun Pembangkit 100 MW
Geo Dipa saat ini mengoperasikan pembangkit panas bumi dengan kapasitas sekitar 120 megawatt (MW). Perusahaan juga sedang membangun pembangkit dengan kapasitas sekitar 100 MW.
Selain proyek yang sedang berjalan, Geo Dipa menyiapkan proses pengadaan untuk pembangkit dengan kapasitas sekitar 110 MW.
Dengan berbagai proyek tersebut, total kapasitas panas bumi yang perusahaan kelola mendekati 400 MW.
Perusahaan juga memiliki pengalaman selama 24 tahun dalam pengoperasian dan pemeliharaan pembangkit panas bumi.
PLTP Dieng Unit 2 Masuk Tahap Konstruksi
Salah satu proyek besar Geo Dipa berada di kawasan Dieng, Jawa Tengah.
Geo Dipa bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memulai konstruksi PLTP Dieng Unit 2 pada Juni 2026.
Proyek tersebut memiliki kapasitas 1 x 55 MW. Geo Dipa menargetkan pembangkit tersebut mulai beroperasi secara komersial pada Maret 2028.
Pembangunan proyek ini juga membuka kebutuhan tenaga kerja serta jasa pendukung selama masa konstruksi.
Geo Dipa Siapkan Target 965 MW
Geo Dipa tidak berhenti pada proyek yang sedang berjalan. Perusahaan menargetkan pembangunan pembangkit panas bumi dengan kapasitas mencapai 965 MW dalam 10 tahun mendatang.
Target tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan pemanfaatan energi panas bumi Indonesia.
Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar. Data yang disampaikan Geo Dipa menyebut potensi nasional mencapai sekitar 24 gigawatt (GW).
Namun, pemanfaatan potensi tersebut masih berada pada sebagian kecil dari keseluruhan sumber daya yang tersedia.
Kondisi tersebut membuka ruang bagi pengembangan proyek panas bumi baru di berbagai wilayah Indonesia.
Geo Dipa Cari Sumber Pendanaan Baru
Geo Dipa juga menyiapkan strategi pembiayaan lain untuk mendukung ekspansi perusahaan.
Salah satu opsi yang perusahaan kaji ialah penerbitan obligasi. Rencana tersebut masuk dalam rencana jangka panjang perusahaan.
Geo Dipa menilai obligasi dapat memberikan tambahan sumber dana tanpa mengubah struktur kepemilikan perusahaan seperti mekanisme penawaran saham perdana.
Perusahaan berencana mulai mengkaji waktu dan nilai penerbitan obligasi pada 2027.
Selain obligasi, pemerintah juga menyiapkan skema pendanaan melalui Special Mission Vehicle atau SMV di bawah Kementerian Keuangan.
Skema tersebut dapat membuka alternatif pembiayaan untuk sektor energi dengan memperhitungkan biaya pendanaan atau cost of debt.
Panas Bumi Punya Peran dalam Ketahanan Energi
Panas bumi memiliki karakteristik berbeda dari pembangkit yang bergantung pada kondisi cuaca.
Pembangkit panas bumi memanfaatkan sumber energi yang berasal dari dalam bumi. Karakter tersebut memungkinkan pembangkit menghasilkan listrik secara lebih stabil.
Pengembangan panas bumi juga dapat membantu Indonesia meningkatkan penggunaan energi terbarukan.
Pemerintah terus mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan untuk mendukung ketahanan energi dan target pengurangan emisi.
Geo Dipa melihat pengembangan panas bumi sebagai bagian dari peran BUMN dalam mendukung agenda energi hijau pemerintah.
Geo Dipa Ingin Kembangkan Green Minerals
Selain menghasilkan listrik, Geo Dipa juga melihat peluang dari pemanfaatan mineral yang terdapat dalam sumber panas bumi.
Perusahaan menargetkan produksi silika dan litium hingga sekitar 5.000 ton per tahun dalam 10 tahun mendatang.
Geo Dipa menyebut komoditas tersebut dapat memberikan nilai ekonomi tambahan bagi pengembangan lapangan panas bumi.
Strategi tersebut juga dapat membantu perusahaan memperluas sumber pendapatan di luar bisnis pembangkitan listrik.
Pemerintah Dorong Pengembangan Energi Terbarukan
Pengembangan panas bumi menjadi salah satu bagian dari agenda pemerintah untuk meningkatkan kapasitas energi terbarukan.
Kementerian ESDM sebelumnya menetapkan sejumlah lokasi eksplorasi baru dengan potensi energi mencapai sekitar 732 MW. Pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi untuk pengembangan tersebut mencapai miliaran dolar AS.
Langkah tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan modal untuk mengubah potensi panas bumi menjadi pembangkit listrik.
Geo Dipa dapat memainkan peran melalui pengembangan proyek, pengelolaan pembangkit, serta pencarian sumber pembiayaan baru.
PMN Rp1,3 Triliun Perkuat Ekspansi Geo Dipa
PMN Rp1,3 triliun memberikan tambahan ekuitas bagi Geo Dipa dalam menjalankan proyek panas bumi yang sedang memasuki tahap konstruksi.
Perusahaan kemudian memadukan dana tersebut dengan pinjaman ADB untuk mendukung kebutuhan pembiayaan proyek.
Di sisi lain, Geo Dipa mulai menyiapkan sumber dana alternatif melalui obligasi dan skema pembiayaan lain.
Strategi tersebut memperlihatkan arah perusahaan untuk mengurangi ketergantungan pada APBN dalam membiayai ekspansi jangka panjang.
Dengan proyek yang terus berkembang, Geo Dipa menargetkan peningkatan kapasitas panas bumi hingga 965 MW dalam satu dekade mendatang. Langkah tersebut menempatkan panas bumi sebagai salah satu fokus utama perusahaan dalam mengembangkan energi terbarukan Indonesia.




