
BMKG Ungkap Pemicu Karhutla di Kalimantan, El Niño Sangat Kuat Perparah Kemarau
malangtoday.id – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali meningkatkan kewaspadaan di sejumlah wilayah Kalimantan pada Agustus 2026. Kondisi cuaca kering, minimnya hujan, dan penguatan El Niño membuat lahan semakin mudah kehilangan kelembapan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG melihat El Niño sebagai salah satu faktor iklim penting yang memperbesar risiko karhutla. Fenomena tersebut mengurangi suplai uap air dan memperkuat kondisi kering selama musim kemarau.
BMKG mencatat indeks suhu permukaan laut pada wilayah Niño 3.4 mencapai +2,77 pada Dasarian I Agustus 2026. Angka itu menunjukkan El Niño dengan intensitas sangat kuat. Kondisi tersebut meningkat dibandingkan nilai bulanan Juli yang mencapai +2,20.
Situasi itu bertepatan dengan puncak musim kemarau di banyak wilayah Indonesia. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat Kalimantan menghadapi tekanan kekeringan yang semakin besar.
El Niño Membuat Atmosfer Indonesia Semakin Kering
El Niño memengaruhi pola sirkulasi atmosfer dan distribusi hujan di kawasan tropis. Bagi Indonesia, fenomena ini sering mengurangi pembentukan awan hujan pada periode tertentu.
BMKG mencatat sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia atau 535 Zona Musim sudah memasuki musim kemarau pada Dasarian I Agustus 2026. Curah hujan rendah juga mendominasi sekitar 90,79 persen wilayah Indonesia.
Kondisi tersebut memperlihatkan dominasi udara kering selama Agustus. BMKG juga melihat sifat hujan bawah normal pada sebagian besar wilayah Indonesia.
Kalimantan termasuk kawasan yang perlu meningkatkan kewaspadaan. BMKG menempatkan beberapa wilayah Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur dalam peringatan kekeringan meteorologis.
Beberapa wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan juga menghadapi tingkat risiko yang lebih tinggi. Kurangnya hujan membuat tanah kehilangan kelembapan lebih cepat.
Vegetasi kering kemudian menyediakan bahan bakar alami bagi api. Situasi akan semakin berbahaya ketika angin membawa api menuju area gambut atau vegetasi yang sangat kering.
Hotspot di Kalimantan Meningkat Tajam
Perkembangan terbaru menunjukkan ancaman karhutla masih membutuhkan perhatian serius. BNPB mencatat sebanyak 1.487 hotspot di seluruh Kalimantan berdasarkan pemantauan Satelit NOAA-20 hingga 20 Agustus 2026.
Kalimantan Tengah mencatat konsentrasi tertinggi dengan 767 hotspot. Kalimantan Barat mengikuti dengan 560 hotspot. Pemerintah juga menemukan titik panas di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Data tersebut memperlihatkan bahwa ancaman karhutla belum mereda menjelang akhir Agustus. Pemerintah terus memperkuat pemantauan karena periode Agustus hingga September menjadi fase penting selama musim kemarau 2026.
Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat mendapat perhatian besar karena kedua provinsi memiliki kawasan gambut yang luas. Gambut kering dapat menyimpan bara hingga ke lapisan bawah tanah.
Karakter tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan tenaga dan waktu lebih besar. Api juga dapat muncul kembali ketika petugas belum mendinginkan seluruh lapisan gambut secara menyeluruh.
Kalimantan Hadapi Puncak Risiko Karhutla
BMKG sebelumnya memperkirakan sebagian besar Kalimantan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Kalimantan bagian selatan juga masih menghadapi puncak kemarau pada September.
Kondisi itu menambah tekanan terhadap daerah yang sudah mengalami penurunan curah hujan. BMKG juga memperkirakan curah hujan rendah hingga menengah masih mendominasi banyak wilayah sampai awal September.
El Niño sangat kuat semakin mengurangi suplai uap air ke atmosfer Indonesia. Namun, faktor lokal masih dapat memunculkan hujan dalam durasi pendek di beberapa wilayah.
Hujan lokal tersebut belum tentu mampu meningkatkan kelembapan tanah secara signifikan. Karena itu, masyarakat tetap perlu menjaga kewaspadaan meskipun hujan sesekali turun.
BMKG juga melihat aktivitas Madden-Julian Oscillation dan Gelombang Kelvin di beberapa bagian Kalimantan. Kedua fenomena itu dapat mendukung pembentukan awan pada waktu tertentu.
Namun, pengaruh El Niño dan musim kemarau masih memberikan tekanan besar terhadap kondisi kelembapan secara umum.
Aktivitas Manusia Tetap Menjadi Faktor Penting
El Niño tidak secara langsung menyalakan kebakaran hutan atau lahan. Fenomena iklim tersebut menciptakan lingkungan yang jauh lebih kering sehingga api lebih mudah membesar dan menyebar.
Aktivitas manusia tetap memegang peran penting dalam banyak kejadian karhutla. Pembukaan lahan dengan api, pembakaran sampah, puntung rokok, dan kelalaian dapat memicu titik api.
Kondisi kering kemudian membuat api berkembang jauh lebih cepat. Angin juga dapat membawa percikan menuju area lain dan memperluas kebakaran.
Karena itu, masyarakat tidak boleh melihat El Niño sebagai satu-satunya penyebab karhutla. El Niño memperbesar risiko, sementara sumber api tetap membutuhkan perhatian serius.
Pencegahan sejak awal menjadi langkah paling efektif. Masyarakat perlu menghentikan pembakaran terbuka ketika cuaca sangat kering.
Pemerintah Perkuat Penanganan Karhutla
Pemerintah terus menggabungkan operasi darat, pemantauan udara, dan teknologi untuk mengendalikan karhutla. BNPB bersama pemerintah daerah juga meningkatkan pengawasan hotspot pada wilayah rawan.
Pada 19 Agustus 2026, kebakaran juga muncul di Desa Sepan, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Api membakar sekitar 10,65 hektare lahan sebelum tim gabungan menguasai kebakaran pada hari yang sama.
Sebelumnya, pemerintah juga memperkuat operasi udara melalui water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca. Langkah tersebut membantu meningkatkan kelembapan lahan serta mendukung tim pemadam di lapangan.
BMKG juga memperkuat sistem observasi cuaca di Kalimantan. Pada 10 Agustus 2026, BMKG mengoperasikan radar cuaca C-Band di Muara Teweh, Kalimantan Tengah. Radar tersebut membantu pemantauan cuaca dan mendukung langkah pencegahan karhutla.
Masyarakat Perlu Meningkatkan Kewaspadaan
Risiko karhutla masih tinggi selama kondisi kering bertahan. Karena itu, masyarakat perlu menghindari semua aktivitas yang dapat menghasilkan api pada kawasan rawan.
Warga juga perlu segera melapor ketika menemukan asap atau titik api. Respons cepat dapat mencegah api menjangkau kawasan yang lebih luas.
Pemilik lahan perlu membersihkan material kering tanpa membakarnya. Pemerintah daerah juga perlu menjaga sumber air, peralatan pemadam, dan jalur menuju kawasan rawan.
BMKG memperkirakan pengaruh El Niño masih bertahan hingga awal 2027. Namun, dampak terbesar bagi Indonesia muncul ketika El Niño bertemu langsung dengan musim kemarau.
Kondisi pada Agustus 2026 menunjukkan kombinasi tersebut sedang berlangsung. Kalimantan pun menghadapi periode yang membutuhkan pengawasan ketat.
Jumlah hotspot yang tinggi memperlihatkan pentingnya pencegahan sejak titik api pertama muncul. Kolaborasi pemerintah, petugas lapangan, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi risiko.




