Serangan Israel di Gaza Tewaskan 5 Warga, Dua Korban Pelayan Gereja

malangtoday.id – Serangan Israel kembali menelan korban jiwa di Jalur Gaza. Serangan udara menghantam sebuah gedung apartemen di kawasan Al-Rimal, Kota Gaza, pada Sabtu dini hari, 3 Oktober 2026.
Insiden tersebut menewaskan sedikitnya lima warga Palestina. Empat dari lima korban merupakan perempuan.
Dua korban yang menarik perhatian komunitas Kristen Gaza adalah Maisa Abu Dawoud dan putrinya, Mary Najjar.
Keduanya aktif membantu umat serta warga yang mencari perlindungan di Gereja Keluarga Kudus atau Holy Family Church.
Serangan juga menewaskan akademisi Yasmin al-Boubou dan ibunya, Halloum al-Boubou. Seorang pria juga kehilangan nyawa dalam serangan tersebut.
Ledakan menghancurkan bagian bangunan dan memicu kebakaran. Warga sekitar kemudian berusaha membantu korban serta mencari orang yang tertimbun reruntuhan.
Serangan Menghantam Apartemen Saat Warga Tidur
Serangan terjadi ketika banyak warga masih tidur.
Putra Mary yang berusia 14 tahun mengatakan ledakan menghantam bangunan sekitar pukul 01.30 waktu setempat.
Suara ledakan langsung membangunkan warga di sekitar lokasi.
Penduduk kemudian keluar rumah dan berusaha mencari sumber ledakan.
Mereka menemukan bagian apartemen mengalami kerusakan berat.
Api juga muncul setelah serangan.
Warga bersama petugas penyelamat berusaha mencari korban di antara puing bangunan.
Situasi tersebut kembali memperlihatkan risiko besar yang warga sipil hadapi di tengah konflik Gaza.
Banyak warga tinggal di kawasan padat karena peperangan telah menghancurkan rumah dan memaksa keluarga berpindah tempat berkali-kali.
Maisa dan Mary Aktif Membantu Jemaat Gereja
Maisa Abu Dawoud dan putrinya Mary Najjar berasal dari komunitas Kristen Palestina di Gaza.
Komunitas setempat mengenal Maisa dengan panggilan Umm Michel. Sementara itu, warga mengenal Mary sebagai Umm Fouad.
Keduanya memiliki hubungan erat dengan Gereja Keluarga Kudus.
Mereka menghabiskan waktu untuk membantu jemaat serta warga yang mencari perlindungan di kompleks gereja.
Sejak perang berlangsung, sejumlah gereja di Gaza membuka ruang bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Keluarga Kristen dan Muslim juga mencari tempat aman di berbagai fasilitas keagamaan.
Maisa dan Mary ikut membantu kehidupan komunitas tersebut.
Kematian mereka membawa duka mendalam bagi keluarga dan umat Kristen Gaza.
Gereja Sampaikan Duka Mendalam
Komite Tinggi Kepresidenan untuk Urusan Gereja Palestina menyampaikan belasungkawa atas kematian Maisa dan Mary.
Ketua komite, Ramzi Khoury, menyebut kehilangan mereka membawa kesedihan besar bagi keluarga dan komunitas gereja.
Gereja Ortodoks Yunani Saint Porphyrius di Gaza juga menyampaikan duka.
Patriark Latin Yerusalem Kardinal Pierbattista Pizzaballa turut menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban serta komunitas Kristen setempat.
Komunitas Kristen Gaza memang memiliki jumlah yang relatif kecil.
Konflik berkepanjangan semakin memperberat kehidupan mereka.
Banyak keluarga menghadapi kehilangan rumah, pekerjaan, anggota keluarga, hingga akses terhadap kebutuhan dasar.
Pemakaman Berlangsung di Gereja Saint Porphyrius
Keluarga dan umat kemudian menggelar pemakaman Maisa dan Mary di Gereja Saint Porphyrius di kawasan Kota Tua Gaza.
Doa, nyanyian rohani, dan pembacaan ayat keagamaan mengiringi prosesi tersebut.
Warga datang untuk memberikan penghormatan terakhir.
Momen itu menunjukkan kuatnya solidaritas komunitas lokal di tengah situasi yang sulit.
Putra Mary juga menyampaikan kesedihan mendalam setelah kehilangan ibu dan neneknya dalam waktu bersamaan.
Ia berharap perang segera berakhir.
Pernyataannya menggambarkan penderitaan banyak keluarga Gaza yang kehilangan orang terdekat selama konflik.
Akademisi Gaza Juga Menjadi Korban
Serangan tersebut juga menewaskan Yasmin al-Boubou.
Yasmin bekerja sebagai dosen di Departemen Multimedia, College of Intermediate Studies, University of Palestine di Gaza.
Ia sebelumnya juga memimpin Departemen Teknologi Multimedia.
Lingkungan akademik mengenalnya melalui aktivitas pendidikan dan pengembangan mahasiswa.
Ibunya, Halloum al-Boubou, juga meninggal dalam serangan yang sama.
Kematian Yasmin menambah daftar tenaga akademik Gaza yang kehilangan nyawa sejak konflik berlangsung.
Kerusakan fasilitas pendidikan juga membuat sektor pendidikan Gaza menghadapi tantangan besar.
Sekolah dan universitas kehilangan fasilitas, tenaga pengajar, serta mahasiswa.
Militer Israel Sebut Operasi Menargetkan Tokoh Hamas
Militer Israel mengatakan mereka melancarkan serangan terhadap sebuah apartemen di Gaza dengan tujuan menargetkan Ali al-Amoudi.
Sumber Hamas menyebut al-Amoudi memiliki posisi dalam kantor politik Hamas di Gaza.
Namun, laporan yang tersedia belum memastikan apakah operasi terhadap al-Amoudi merupakan serangan yang sama yang menewaskan lima warga Palestina tersebut.
Militer Israel mengatakan mereka masih meninjau hasil operasi.
Hamas juga belum langsung memberikan komentar terkait klaim tersebut.
Perbedaan informasi tersebut membuat detail sasaran serangan masih memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Warga Sipil Kembali Menanggung Dampak Konflik
Peristiwa terbaru kembali menyoroti besarnya risiko terhadap warga sipil.
Kawasan permukiman padat membuat serangan udara dapat membawa dampak besar terhadap keluarga di sekitar sasaran.
Anak-anak, perempuan, lansia, tenaga medis, pekerja kemanusiaan, serta tokoh agama ikut menghadapi ancaman.
Gaza juga menghadapi keterbatasan layanan kesehatan.
Rumah sakit harus menangani banyak korban dengan sumber daya yang terbatas.
Kerusakan infrastruktur semakin memperberat proses penyelamatan.
Warga juga menghadapi persoalan makanan, air bersih, listrik, dan tempat tinggal.
Komunitas Kristen Gaza Menghadapi Tekanan Berat
Komunitas Kristen memiliki sejarah panjang di Gaza.
Mereka tinggal bersama masyarakat Palestina lainnya selama beberapa generasi.
Gereja Keluarga Kudus dan Gereja Saint Porphyrius menjadi dua pusat penting bagi komunitas tersebut.
Selama konflik, gereja tidak hanya menjalankan fungsi keagamaan.
Kompleks gereja juga menampung keluarga yang mencari perlindungan.
Relawan membantu membagikan makanan, memberikan dukungan, dan mendampingi warga.
Maisa serta Mary termasuk dalam komunitas yang menjalankan pelayanan tersebut.
Karena itu, kematian mereka membawa kehilangan yang terasa lebih luas daripada lingkaran keluarga.
Seruan Perlindungan Warga Sipil Kembali Menguat
Kematian lima warga Palestina dalam serangan terbaru kembali memunculkan seruan agar semua pihak melindungi warga sipil.
Hukum humaniter internasional menuntut pihak yang berperang untuk membedakan sasaran militer dan warga sipil.
Pihak yang menjalankan operasi juga harus memperhitungkan dampak terhadap penduduk.
Situasi di Gaza membuat prinsip tersebut terus mendapat perhatian dunia.
Kawasan padat penduduk menciptakan risiko tinggi setiap kali serangan menghantam permukiman.
Organisasi kemanusiaan dan pemimpin agama terus menyerukan akses bantuan, perlindungan warga, serta langkah menuju penghentian kekerasan.
Gaza Kembali Berduka
Serangan di Al-Rimal kembali menambah duka masyarakat Gaza.
Lima orang kehilangan nyawa.
Empat di antaranya perempuan.
Dua korban aktif membantu umat dan pengungsi di Gereja Keluarga Kudus.
Keluarga kehilangan orang terdekat, sementara komunitas gereja kehilangan dua anggota yang selama ini ikut melayani warga.
Peristiwa tersebut juga menunjukkan bagaimana perang menyentuh hampir seluruh lapisan kehidupan.
Rumah, sekolah, universitas, tempat ibadah, serta lingkungan keluarga menghadapi dampaknya.
Di tengah konflik yang terus berlangsung, masyarakat Gaza kembali membawa satu harapan yang sama.
Mereka ingin kekerasan berhenti, keluarga mendapat perlindungan, dan warga dapat menjalani kehidupan tanpa ketakutan terhadap serangan berikutnya.




