Wamen Stella Soroti AI yang Boros Listrik dan Air
malangtoday.id – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengingatkan masyarakat tentang kebutuhan sumber daya dalam perkembangan kecerdasan artifisial atau AI.
Stella menyoroti konsumsi listrik dan air yang besar untuk mendukung pusat data AI. Menurutnya, masyarakat perlu memahami biaya lingkungan di balik perkembangan teknologi tersebut.
Stella menyampaikan pandangan itu saat berbicara kepada mahasiswa baru Institut Teknologi Sepuluh Nopember atau ITS pada Agustus 2026. Ia mengajak mahasiswa melihat AI secara kritis dan tidak hanya mengikuti tren teknologi.
Menurut Stella, perkembangan AI memang menawarkan banyak peluang. Namun, masyarakat juga perlu menghitung sumber daya yang harus mereka gunakan untuk menjalankan teknologi tersebut.
AI Membutuhkan Daya Komputasi Besar
Stella menjelaskan bahwa AI bertumpu pada tiga komponen utama. Ketiganya mencakup algoritma, data, dan daya komputasi.
Daya komputasi membutuhkan infrastruktur pusat data. Infrastruktur tersebut menjalankan berbagai proses untuk melatih dan mengoperasikan model AI.
Pusat data membutuhkan listrik dalam jumlah besar. Pengelola juga membutuhkan air untuk membantu menjaga suhu peralatan komputer.
Karena itu, pertumbuhan AI ikut meningkatkan kebutuhan energi dan sumber daya air. Stella meminta masyarakat melihat persoalan tersebut sebagai bagian dari diskusi tentang masa depan AI.
Ia tidak meminta masyarakat menghentikan penggunaan AI. Sebaliknya, Stella mendorong penggunaan teknologi secara lebih sadar.
Kebutuhan Listrik AI Terus Meningkat
Stella sebelumnya menjelaskan bahwa kebutuhan listrik pusat data AI dapat meningkat tajam dalam beberapa tahun mendatang.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mencatat proyeksi kebutuhan listrik pusat data berbasis AI sekitar 155 TWh pada 2025. Angka itu dapat mencapai sekitar 465 TWh pada 2030.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan skala perkembangan komputasi AI. Semakin besar model dan semakin banyak orang menggunakan layanan AI, semakin besar pula kebutuhan infrastruktur.
Perusahaan teknologi kini terus membangun pusat data baru. Mereka membutuhkan kapasitas komputasi yang lebih besar untuk menjalankan berbagai layanan digital.
Namun, pembangunan tersebut juga membutuhkan pasokan listrik yang stabil. Karena itu, energi menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan industri AI.
Air Juga Menjadi Perhatian
Selain listrik, Stella menyoroti penggunaan air dalam operasional pusat data. Server menghasilkan panas ketika menjalankan proses komputasi.
Pengelola pusat data membutuhkan sistem pendingin untuk menjaga peralatan tetap bekerja. Beberapa sistem pendingin menggunakan air dalam prosesnya.
Kondisi tersebut membuat lokasi pusat data memiliki kebutuhan sumber daya yang berbeda. Wilayah dengan pasokan air terbatas perlu mempertimbangkan dampak pembangunan pusat data.
Stella mengajak masyarakat memasukkan persoalan air dalam pembahasan mengenai AI. Menurutnya, teknologi tidak hanya membutuhkan perangkat keras dan jaringan internet.
AI juga membutuhkan sumber daya fisik. Karena itu, masyarakat perlu memahami hubungan antara teknologi digital dan lingkungan.
Stella Ajak Mahasiswa Berpikir Kritis
Stella menyampaikan pandangan tersebut kepada mahasiswa baru ITS. Ia meminta mahasiswa tidak menerima semua perkembangan AI tanpa analisis.
Menurut Stella, masyarakat perlu menguji manfaat setiap penggunaan AI. Pengguna juga perlu mempertimbangkan sumber daya yang mereka keluarkan.
Ia bahkan mengingatkan kemungkinan munculnya gelembung teknologi atau AI bubble. Stella membandingkan situasi tersebut dengan gelembung ekonomi pada masa lalu.
Namun, ia tidak bermaksud meremehkan AI. Ia ingin mahasiswa melihat perkembangan teknologi secara lebih mendalam.
Mahasiswa perlu memahami peluang sekaligus risiko. Mereka juga perlu mempertanyakan manfaat sebuah teknologi sebelum menggunakannya secara masif.
Manfaat AI Perlu Seimbang dengan Biaya
Stella mengajak masyarakat mempertimbangkan keseimbangan antara manfaat dan sumber daya. Ia mempertanyakan apakah setiap penggunaan AI memberikan manfaat yang sepadan.
Pertanyaan tersebut menjadi penting ketika pengguna memakai AI untuk kebutuhan sederhana. Sebagian permintaan mungkin membutuhkan daya komputasi meski manfaatnya relatif kecil.
Karena itu, pengguna perlu memilih penggunaan AI secara bijak. Mereka dapat memakai teknologi tersebut ketika AI benar-benar membantu pekerjaan atau proses belajar.
Pada saat yang sama, industri perlu mencari teknologi yang lebih efisien. Pengembangan model AI tidak hanya perlu mengejar kemampuan, tetapi juga efisiensi energi.
Langkah tersebut dapat membantu mengurangi tekanan terhadap sumber daya. Industri juga dapat mengembangkan sistem pendingin dan pusat data dengan penggunaan air yang lebih efisien.
Indonesia Punya Peluang dari Energi Terbarukan
Di sisi lain, Stella melihat peluang besar bagi Indonesia. Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang dapat mendukung pertumbuhan pusat data AI.
Stella menyampaikan pandangan itu dalam forum tentang energi terbarukan pada September 2026. Ia melihat energi bersih sebagai salah satu modal Indonesia untuk memasuki industri pusat data AI.
Indonesia memiliki potensi tenaga surya, panas bumi, hidro, dan sumber energi terbarukan lainnya. Pengelolaan sumber tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan energi industri digital.
Menurut Stella, Indonesia perlu memanfaatkan peluang tersebut secara strategis. Negara tidak hanya perlu menjadi pengguna teknologi AI.
Indonesia juga dapat membangun infrastruktur yang mendukung perkembangan AI. Pusat data, energi, talenta, dan riset menjadi bagian penting dalam ekosistem tersebut.
Data Center Menjadi Infrastruktur Strategis
Perkembangan AI membuat pusat data semakin penting. Infrastruktur tersebut menyediakan daya komputasi untuk berbagai layanan AI.
Stella melihat pusat data sebagai salah satu ruang strategis bagi Indonesia. Namun, negara perlu menyiapkan berbagai faktor pendukung.
Energi menjadi salah satu kebutuhan utama. Selain itu, pusat data membutuhkan lahan, air, jaringan, pembiayaan, dan tenaga ahli.
Indonesia memiliki sejumlah modal untuk mengembangkan industri tersebut. Jumlah penduduk yang besar juga memberikan potensi data yang luas.
Namun, pemerintah dan industri perlu mengelola data secara aman. Perlindungan data pribadi juga harus mengikuti perkembangan teknologi.
Talenta Menentukan Masa Depan AI
Stella juga menyoroti kebutuhan sumber daya manusia. Indonesia membutuhkan talenta yang memahami teknologi sekaligus mampu melihat dampaknya.
Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menyiapkan talenta tersebut. Kampus dapat mengembangkan kemampuan riset, teknologi, analisis, dan pemikiran kritis.
Stella mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengguna AI. Mereka juga perlu memahami cara kerja teknologi dan dampaknya terhadap masyarakat.
Kemampuan tersebut akan membantu Indonesia menghadapi perubahan industri. Talenta lokal dapat ikut mengembangkan teknologi, bukan hanya menggunakan produk dari negara lain.
AI Tidak Hanya Soal Teknologi
Stella juga mengingatkan bahwa perkembangan AI menyentuh kehidupan manusia. AI dapat memengaruhi cara orang bekerja, belajar, mengambil keputusan, dan memperoleh informasi.
Karena itu, masyarakat perlu memahami konteks ketika menggunakan AI. Pengguna juga perlu memeriksa informasi dan mempertimbangkan konsekuensi dari setiap keputusan.
Perguruan tinggi memiliki tugas penting dalam proses tersebut. Kampus perlu membantu mahasiswa memahami pengetahuan, memilah informasi, dan menilai kualitas sumber.
Stella menilai kemampuan manusia dalam melakukan kurasi pengetahuan tetap penting. Manusia perlu menentukan informasi yang memiliki nilai bagi kehidupan dan peradaban.
Indonesia Perlu Menentukan Arah
Perkembangan AI membuka peluang besar bagi Indonesia. Namun, peluang tersebut membutuhkan perencanaan yang matang.
Pemerintah perlu memperkuat energi, infrastruktur, riset, dan pendidikan. Industri juga perlu mengembangkan teknologi dengan memperhatikan efisiensi sumber daya.
Pada saat yang sama, masyarakat perlu menggunakan AI secara bertanggung jawab. Pengguna dapat mempertimbangkan manfaat sebelum mengajukan permintaan kepada sistem AI.
Dengan pendekatan tersebut, Indonesia dapat mengejar perkembangan teknologi tanpa mengabaikan lingkungan. Energi dan air tetap menjadi bagian penting dalam perencanaan masa depan AI.
Stella Christie mengingatkan bahwa AI membawa peluang sekaligus tantangan. Teknologi tersebut dapat membantu manusia dalam banyak bidang.
Namun, perkembangan AI membutuhkan listrik dan air dalam jumlah besar. Karena itu, masyarakat perlu melihat teknologi dari sisi yang lebih luas.
Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan pusat data dan industri AI melalui energi terbarukan. Pemerintah, kampus, dan industri perlu bekerja sama untuk membangun ekosistem yang efisien.
Pada akhirnya, penggunaan AI perlu mengikuti kebutuhan nyata. Masyarakat juga perlu mempertimbangkan manfaat, energi, air, dan dampak lingkungan.
Dengan cara tersebut, Indonesia dapat memanfaatkan AI sambil menjaga sumber daya untuk kebutuhan masyarakat di masa depan.




