
malangtoday.id – Tragedi penembakan tiga aparatur sipil negara di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, menyisakan cerita memilukan bagi keluarga korban. Peristiwa itu merenggut nyawa tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya saat mereka menjalankan tugas.
Salah satu korban bernama Wili Mbuik. Setelah peristiwa penembakan, keluarga Wili mengaku menerima panggilan dari nomor telepon milik korban. Keluarga menduga pelaku mengambil telepon seluler Wili setelah serangan tersebut.
Keluarga bahkan menerima panggilan video dari orang yang menggunakan HP milik Wili. Peristiwa itu menambah tekanan psikologis bagi keluarga yang baru saja kehilangan anggota keluarganya.
Hingga Jumat, 11 September 2026, aparat terus mengejar para terduga pelaku. Polisi juga mengumpulkan keterangan saksi dan berbagai barang bukti untuk mengungkap seluruh rangkaian kejadian.
Tiga ASN Tewas Saat Menjalankan Tugas di Jayawijaya
Peristiwa penembakan terjadi pada Rabu, 9 September 2026, sore. Rombongan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya saat itu melakukan perjalanan kembali menuju Wamena.
Sebelumnya, rombongan menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. Mereka menyalurkan bantuan ternak babi kepada warga di Kampung Kimbim, Distrik Asologaima.
Rombongan tersebut membawa sejumlah pegawai. Dalam perjalanan pulang, kelompok bersenjata menghadang rombongan ketika mereka melintas di sekitar Distrik Muliama.
Serangan kemudian merenggut nyawa tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Ketiga korban yaitu Aprida Rapi, Alfonsius Albinus Meha, dan Wili Mbuik.
Aprida Rapi berusia 49 tahun. Alfonsius Albinus Meha berusia 35 tahun. Sementara itu, sejumlah laporan mencatat usia Wili Mbuik sekitar 25 hingga 26 tahun.
Aparat segera membawa para korban menuju RSUD Wamena setelah memperoleh informasi mengenai serangan tersebut. Kejadian ini kemudian memicu operasi pengejaran terhadap kelompok yang bertanggung jawab.
Pelaku Diduga Mengambil HP Wili Mbuik
Kisah memilukan muncul setelah keluarga Wili menerima komunikasi dari telepon seluler milik korban.
Paman Wili, Johanis Baba, mengungkap bahwa keluarga menerima beberapa panggilan dari nomor yang tersimpan dalam HP Wili. Keluarga menduga pelaku mengambil perangkat tersebut setelah penembakan.
Salah satu orang kemudian menggunakan HP itu untuk melakukan panggilan video kepada keluarga. Rekaman yang beredar memperlihatkan seseorang melalui panggilan tersebut. Keluarga menilai tindakan itu sebagai bentuk teror yang memperparah kesedihan mereka.
Namun, aparat masih menjalankan penyelidikan untuk mengungkap rangkaian kejadian secara menyeluruh. Karena itu, penyidik perlu memastikan identitas orang yang menggunakan telepon tersebut serta hubungannya dengan serangan bersenjata.
Keterangan keluarga kini menjadi bagian penting dalam memahami peristiwa yang terjadi setelah penembakan. Polisi juga dapat menelusuri jejak komunikasi dan perangkat elektronik untuk memperkuat proses penyelidikan.
Polisi Buru Sekitar Delapan Terduga Pelaku
Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 terus memburu kelompok yang menyerang para pegawai Dinas Pertanian tersebut.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026 Kombes Yusuf Sutejo menjelaskan bahwa aparat telah memperoleh ciri-ciri terduga pelaku melalui keterangan saksi yang selamat.
Keterangan awal mengarah kepada sekitar delapan orang. Aparat juga mendapat informasi bahwa kelompok tersebut membawa dua senjata api laras panjang.
Tim kemudian bergerak untuk mengejar para terduga pelaku. Aparat memperkuat pengamanan di Kabupaten Jayawijaya agar proses pengejaran berjalan efektif dan masyarakat tetap memperoleh perlindungan.
Satgas juga menambah sekitar 50 personel dari Timika untuk memperkuat operasi di wilayah Jayawijaya. Langkah tersebut menunjukkan keseriusan aparat dalam mengusut kasus ini.
Polisi Temukan Selongsong Peluru dan Jejak Darah
Petugas menemukan sejumlah petunjuk penting ketika memeriksa lokasi penembakan. Barang bukti tersebut dapat membantu penyidik mengetahui jenis senjata dan pergerakan para pelaku.
Aparat menemukan tiga selongsong peluru. Dua selongsong berasal dari amunisi kaliber 5,56 milimeter, sedangkan satu lainnya berasal dari amunisi kaliber 9 milimeter.
Petugas juga menemukan jejak darah yang diduga berkaitan dengan pelaku.
Tim penyidik selanjutnya menganalisis seluruh barang bukti tersebut. Mereka juga mencocokkan hasil pemeriksaan lapangan dengan keterangan para saksi.
Polisi menduga kelompok bersenjata dari wilayah Nduga terlibat dalam serangan tersebut. Namun, aparat masih mendalami identitas setiap orang yang terlibat dan belum menghentikan proses penyelidikan.
Jenazah Wili Mbuik Tiba di Kupang
Keluarga Wili akhirnya menyambut jenazah korban di Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat, 11 September 2026.
Pesawat yang membawa jenazah tiba di Bandara El Tari Kupang pada pagi hari. Keluarga menyambut peti jenazah dengan tangis dan suasana duka.
Pihak terkait menutup peti jenazah dengan bendera Merah Putih sebagai bentuk penghormatan. Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma bersama sejumlah pejabat daerah turut memberikan penghormatan.
Kepulangan Wili membawa kesedihan mendalam bagi keluarga. Sebelumnya, Wili meninggalkan kampung halaman untuk bekerja dan menjalankan tugas di Papua Pegunungan.
Kini keluarga harus menerima kenyataan setelah serangan bersenjata merenggut nyawanya.
KemenHAM Desak Aparat Usut Kasus Sampai Tuntas
Kementerian Hak Asasi Manusia turut mengecam penembakan terhadap tiga ASN tersebut.
KemenHAM meminta aparat mengusut kasus sampai tuntas serta membawa pelaku ke proses hukum. Kementerian tersebut menilai kekerasan terhadap warga sipil tidak memiliki pembenaran.
Pemerintah juga perlu menjaga keselamatan petugas pelayanan publik yang bekerja di wilayah rawan. Pegawai pertanian, tenaga kesehatan, guru, dan pekerja pelayanan masyarakat sering harus memasuki wilayah yang jauh dari pusat kota.
Keamanan menjadi faktor penting agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan. Pemerintah dan aparat perlu memperkuat koordinasi tanpa mengabaikan keselamatan warga.
Kasus di Muliama menunjukkan besarnya dampak kekerasan bersenjata terhadap keluarga korban dan pelayanan publik. Serangan tersebut tidak hanya merenggut tiga nyawa. Peristiwa itu juga meninggalkan trauma bagi orang-orang yang selamat dan keluarga yang kehilangan anggota tercinta.
Pengejaran Pelaku Terus Berlangsung
Aparat keamanan kini memusatkan perhatian pada pengejaran para pelaku serta pengumpulan bukti tambahan.
Keterangan saksi memberi polisi gambaran awal mengenai jumlah dan ciri kelompok yang melakukan serangan. Barang bukti dari lokasi juga membantu penyidik mempersempit proses pencarian.
Di sisi lain, dugaan penggunaan HP Wili Mbuik untuk menghubungi keluarga menambah aspek penting dalam penyelidikan. Aparat perlu menelusuri aktivitas perangkat tersebut agar dapat menemukan petunjuk baru mengenai identitas dan pergerakan pelaku.
Keluarga korban tentu mengharapkan kejelasan dan proses hukum yang tegas. Mereka juga membutuhkan ruang untuk menjalani masa duka setelah kehilangan orang tercinta.




