
malangtoday.id – Rekaman panggilan video antara kelompok kriminal bersenjata (KKB) dan keluarga Willy Mbuik kembali menarik perhatian publik. Willy merupakan CPNS yang tewas dalam penembakan di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Keluarga mengenang Willy melalui rekaman video saat ia berbicara dengan ayahnya. Momen tersebut memperlihatkan kebahagiaan Willy setelah menerima surat keputusan CPNS. Namun, tragedi yang terjadi beberapa waktu kemudian mengubah kenangan itu menjadi duka mendalam.
Informasi mengenai penggunaan HP Willy untuk menghubungi keluarganya muncul setelah penembakan tiga pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya. Keluarga mengetahui bahwa pelaku kemungkinan mengambil telepon seluler milik Willy setelah kejadian.
Sampai perkembangan terakhir, aparat masih menyelidiki siapa yang menggunakan HP tersebut dan bagaimana pelaku bisa menghubungi keluarga korban. Polisi juga terus mengumpulkan keterangan untuk mengungkap rangkaian peristiwa.
Willy Mbuik Baru Dua Bulan Menjadi CPNS
Willy Mbuik, yang juga dikenal sebagai Willi Mbuik, berusia sekitar 24 tahun. Ia berasal dari Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Willy mulai bertugas di Jayawijaya sejak 2023. Ia bekerja di lingkungan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Jayawijaya. Pada 2026, ia akhirnya menerima SK CPNS setelah mengikuti proses seleksi yang berlangsung sejak 2024.
Keluarga menyebut Willy baru menjalani masa CPNS selama kurang lebih dua bulan. Ia mendapat kesempatan untuk mengabdi di Papua Pegunungan melalui formasi penerimaan pegawai pemerintah.
Sebelum tragedi itu, Willy menjalani tugas kedinasan seperti pegawai lainnya. Ia ikut dalam kegiatan pelayanan masyarakat dan membantu program pertanian serta peternakan.
Keluarga mengenang Willy sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Mereka berharap ia bisa membangun masa depan melalui pekerjaan yang ia perjuangkan sejak mengikuti seleksi CPNS.
Kronologi Penembakan Tiga Pegawai Jayawijaya
Penembakan terjadi pada Rabu, 9 September 2026, di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya. Rombongan pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya menjalankan tugas untuk meninjau kegiatan pertanian dan menyalurkan bantuan kepada masyarakat.
Sebanyak 11 pegawai berangkat menggunakan dua mobil. Mereka membawa bibit dan anakan babi untuk mendukung kegiatan peternakan masyarakat.
Dalam perjalanan pulang menuju Wamena, kelompok bersenjata menghadang rombongan. Para pelaku kemudian memisahkan pegawai lokal dan pendatang.
Willy termasuk dalam kelompok pendatang yang menghadapi pelaku. Kelompok bersenjata lalu menembak tiga pegawai dalam rombongan tersebut.
Penembakan menewaskan tiga orang, yaitu Willy Mbuik, Aprida Rapi, dan Alfonsius Albinus Meha. Ketiganya bekerja di Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya.
Aprida menjabat sebagai Kepala Bidang Peternakan. Alfonsius bekerja sebagai dokter hewan. Sementara itu, Willy menjalani tugas sebagai CPNS.
Aparat mengevakuasi ketiga korban ke RSUD Wamena. Namun, ketiganya tidak berhasil bertahan hidup.
HP Willy Hilang Setelah Penembakan
Keluarga Willy mengetahui bahwa telepon seluler miliknya hilang setelah penembakan. Tas Willy juga tertinggal di kantor saat ia berangkat menjalankan tugas.
Keluarga menduga pelaku mengambil HP tersebut setelah menghadang rombongan. Namun, aparat belum memastikan siapa yang mengambil dan menggunakan telepon seluler itu.
Informasi mengenai video call menjadi perhatian karena keluarga mengenal HP tersebut sebagai barang pribadi Willy. Mereka juga mengingat kembali percakapan terakhir Willy dengan ayahnya melalui panggilan video.
Dalam rekaman yang kembali beredar, Willy terlihat terharu setelah menerima SK CPNS. Ia menyampaikan kebahagiaan kepada ayahnya melalui panggilan video.
Ayah Willy kemudian memberikan pesan agar anaknya tetap rendah hati selama mengabdi di tanah orang. Pesan tersebut kini menjadi kenangan yang sangat berarti bagi keluarga.
Polisi Masih Menyelidiki Pelaku
Aparat keamanan terus menyelidiki penembakan tiga pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya. Satgas Operasi Damai Cartenz 2026 bersama Polres Jayawijaya mengumpulkan bukti dan memeriksa saksi.
Polisi juga melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Petugas menemukan tiga selongsong peluru di lokasi. Dua selongsong berkaliber 5,56 milimeter, sedangkan satu lainnya berkaliber 9 milimeter.
Temuan tersebut membantu polisi memetakan jenis senjata yang pelaku gunakan. Namun, aparat masih mendalami identitas kelompok yang terlibat dalam penembakan.
Satgas menduga kelompok bersenjata dari wilayah Nduga melakukan serangan tersebut. Meski begitu, polisi belum menetapkan identitas kelompok secara final.
Penyelidikan juga mencakup motif penembakan. Aparat perlu mengumpulkan keterangan dari para saksi dan memeriksa bukti yang ada sebelum menyimpulkan rangkaian kejadian.
Keluarga Menunggu Kepulangan Willy
Keluarga Willy di Kupang menggelar doa bersama sambil menunggu kepulangan jenazah. Mereka berharap proses evakuasi berjalan lancar dan jenazah segera tiba di Nusa Tenggara Timur.
Keluarga juga bersiap membawa jenazah Willy ke Kabupaten Rote Ndao, tempat orang tuanya tinggal. Di sana, keluarga akan melanjutkan prosesi pemakaman sesuai adat dan keyakinan mereka.
Kabar kematian Willy meninggalkan duka bagi keluarga, rekan kerja, dan masyarakat yang mengenalnya. Ia baru memulai perjalanan sebagai CPNS ketika tragedi itu menghentikan pengabdiannya.
Rekaman video call bersama ayahnya menjadi salah satu kenangan terakhir yang keluarga simpan. Momen tersebut mengingatkan mereka pada harapan Willy untuk mengabdi dan membangun masa depan melalui pekerjaannya.
Sementara itu, aparat terus berupaya mengungkap pelaku penembakan dan memastikan proses hukum berjalan. Keluarga berharap penyelidikan memberikan kejelasan mengenai tragedi yang merenggut nyawa Willy dan dua rekannya.
Keterangan terbaru mengenai penggunaan HP Willy masih menunggu hasil penyelidikan. Polisi belum mengungkap identitas orang yang melakukan panggilan video tersebut.



