
malangtoday.id – Jumlah korban gempa NTT kembali bertambah setelah petugas memperbarui hasil pendataan di sejumlah kabupaten. Hingga Kamis, 27 Agustus 2026, BNPB mencatat 111 orang meninggal dunia.
BNPB juga mencatat 1.672 orang mengalami luka atau sakit. Sementara itu, 176.621 warga masih tinggal di lokasi pengungsian.
Gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026. Guncangan kuat menimbulkan kerusakan luas pada rumah, fasilitas umum, jalan, hingga jaringan irigasi.
Tim gabungan terus memperbarui data setelah menerima informasi dari pemerintah daerah. Proses verifikasi juga membuat angka korban berubah seiring perkembangan kondisi di lapangan.
Sebelumnya, BNPB mencatat 105 orang meninggal dan 1.678 orang mengalami luka. Pembaruan berikutnya menambah enam korban meninggal sehingga jumlahnya mencapai 111 orang.
Enam Korban Meninggal Menambah Jumlah Menjadi 111 Orang
BNPB mencatat tambahan enam korban meninggal pada pembaruan 27 Agustus 2026. Empat korban berasal dari Kabupaten Manggarai dan dua korban berasal dari Manggarai Timur.
Tambahan tersebut membuat jumlah korban meninggal mencapai 111 orang. BNPB menjelaskan bahwa enam korban tambahan mengalami dampak tidak langsung dari bencana.
Manggarai mencatat jumlah korban meninggal paling banyak dengan 45 orang. Manggarai Timur menyusul dengan 38 orang.
Nagekeo mencatat 13 korban meninggal. Sikka mencatat enam orang, sedangkan Ngada mencatat lima orang.
Ende mencatat tiga korban meninggal. Manggarai Barat mencatat satu korban meninggal.
Data tersebut menunjukkan bahwa Manggarai dan Manggarai Timur menanggung dampak kemanusiaan paling besar dari gempa NTT.
Kelompok lanjut usia juga menghadapi risiko tinggi. Sekitar 45 persen korban meninggal berasal dari kelompok lansia.
Perempuan mencapai sekitar 56,4 persen dari keseluruhan korban meninggal. Kondisi tersebut mendorong pemerintah memperkuat layanan bagi kelompok rentan.
Sebanyak 1.672 Warga Mengalami Luka atau Sakit
Selain korban meninggal, gempa NTT juga menyebabkan ribuan warga membutuhkan layanan kesehatan. BNPB mencatat 1.672 orang mengalami luka atau sakit.
Petugas kesehatan terus memberikan layanan kepada warga melalui fasilitas kesehatan dan pos pelayanan darurat. Pemerintah juga memperkuat layanan medis karena gempa susulan masih berlangsung.
Kementerian Kesehatan menambah dukungan melalui rumah sakit lapangan. Fasilitas tersebut membantu tenaga medis memberikan pelayanan ketika warga masih menghindari bangunan permanen.
Gempa susulan juga membuat banyak warga memilih bertahan di area terbuka. Mereka khawatir guncangan berikutnya dapat merusak bangunan yang sudah mengalami keretakan.
Kondisi ini membuat layanan kesehatan, air bersih, makanan, sanitasi, serta perlindungan kelompok rentan menjadi kebutuhan utama.
Jumlah Pengungsi Masih Mencapai 176.621 Orang
BNPB mencatat 176.621 warga masih mengungsi hingga 27 Agustus 2026. Nagekeo menampung jumlah pengungsi paling besar dengan 51.284 orang.
Ngada mencatat 3.259 warga yang masih mengungsi.
Jumlah pengungsi mulai menurun seiring kepulangan sebagian warga ke rumah masing-masing. Namun, pemerintah tetap meminta warga memeriksa kondisi bangunan sebelum kembali.
Rumah dengan retakan besar atau kerusakan struktur dapat membahayakan penghuni. Gempa susulan juga masih mengancam kawasan Flores dan sekitarnya.
Pemerintah terus menyiapkan kebutuhan dasar bagi warga yang belum dapat pulang. Tim lapangan juga mempercepat pendataan rumah agar proses rehabilitasi segera berjalan.
Ribuan Rumah Mengalami Kerusakan
Gempa berkekuatan M7,7 memberikan dampak besar terhadap permukiman warga di Flores. Pendataan pemerintah menemukan puluhan ribu rumah mengalami berbagai tingkat kerusakan.
Data lanjutan pada 27 Agustus menunjukkan sekitar 84 ribu rumah mengalami kerusakan. Pemerintah kini mempercepat asesmen pada tujuh kabupaten yang mengalami dampak besar.
Tim pemerintah memeriksa kondisi rumah untuk menentukan kategori kerusakan ringan, sedang, atau berat. Hasil pemeriksaan akan menjadi dasar program rehabilitasi dan rekonstruksi.
Kerusakan juga menyentuh jaringan transportasi dan pertanian. BNPB mencatat 157 ruas atau titik jalan mengalami kerusakan.
Selain itu, gempa menyebabkan kerusakan pada 49 jaringan irigasi. Manggarai Timur mencatat dampak paling besar pada jaringan jalan dan irigasi.
Kerusakan tersebut dapat memengaruhi distribusi bantuan dan aktivitas ekonomi warga. Karena itu, pemerintah menempatkan pemulihan akses sebagai salah satu prioritas.
BMKG Catat 8.486 Gempa Susulan
Aktivitas gempa di Flores masih tinggi setelah gempa utama M7,7 pada 15 Agustus 2026. BMKG mencatat 8.486 aktivitas gempa susulan hingga 27 Agustus pukul 17.45 WIB.
Gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2. Pada Kamis sore, 27 Agustus, gempa M5,1 juga mengguncang kawasan timur laut Labuan Bajo.
BMKG menyebut rangkaian gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust. Struktur tektonik ini memiliki peran besar dalam aktivitas kegempaan kawasan Flores.
BMKG terus memantau perkembangan gempa susulan. Masyarakat juga perlu mengikuti informasi resmi dan menghindari kabar yang tidak memiliki dasar jelas.
Warga perlu menjauhi bangunan dengan retakan besar. Mereka juga perlu mengenali jalur evakuasi serta lokasi terbuka yang aman.
Pemerintah Fokus pada Pemulihan Warga NTT
Pemerintah kini menjalankan penanganan darurat bersamaan dengan persiapan rehabilitasi dan rekonstruksi. Tim gabungan terus menyalurkan makanan, air bersih, obat-obatan, tenda, serta kebutuhan keluarga.
Pemerintah juga mulai memetakan rumah yang membutuhkan perbaikan maupun pembangunan ulang. Langkah tersebut bertujuan mempercepat kepulangan warga dari pengungsian.
Pemulihan fasilitas pendidikan dan kesehatan juga memegang peran penting. Anak-anak membutuhkan akses pendidikan, sedangkan masyarakat membutuhkan layanan kesehatan yang stabil.
Pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, tenaga kesehatan, relawan, serta berbagai organisasi terus bekerja di lapangan.
Gempa NTT M7,7 meninggalkan dampak besar bagi masyarakat Flores. Jumlah korban meninggal kini mencapai 111 orang, sedangkan 1.672 orang mengalami luka atau sakit.




