
Sherina Munaf merasakan langsung beratnya perjuangan melawan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan Tengah. Penyanyi sekaligus aktris tersebut ikut turun ke lapangan bersama petugas, relawan, dan sejumlah organisasi lingkungan.
Sherina tidak sekadar melihat kondisi kebakaran dari kejauhan. Ia ikut memegang selang, membantu proses pembasahan, serta menyaksikan bagaimana bara api terus bertahan di bawah lapisan gambut.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan tenaga besar dan waktu panjang. Api yang terlihat sudah hilang dari permukaan ternyata belum tentu benar-benar mati.
Bara masih bisa tersimpan di dalam tanah gambut. Ketika kondisi kembali kering dan angin bertiup, bara tersebut dapat memicu api baru. Situasi inilah yang Sherina saksikan selama berada di lokasi karhutla.
Sherina Munaf Turun Langsung ke Lokasi Karhutla
Sherina mengunjungi sejumlah lokasi terdampak karhutla di Kalimantan Tengah pada awal September 2026. Ia bergerak bersama Borneo Orangutan Survival Foundation atau BOSF serta sejumlah pihak yang menangani kebakaran.
Petugas dari BKSDA Kalimantan Tengah, Dinas Kehutanan, relawan, hingga mahasiswa ikut bekerja menghadapi titik api.
Sherina juga membantu proses pemadaman di kawasan lahan gambut sekitar Universitas Palangka Raya. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa memadamkan karhutla gambut memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi.
Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan. Bara dapat masuk jauh ke lapisan tanah gambut dan terus bertahan meskipun petugas sudah menyiram permukaan dengan air.
Karena itu, petugas harus memastikan air meresap lebih dalam agar bara benar-benar kehilangan sumber panas.
Api Sempat Hilang, Namun Bara Kembali Membara
Salah satu pengalaman yang paling menarik perhatian Sherina muncul ketika ia mendatangi Taman Wisata Alam Galeget Tiawu di Kalimantan Tengah.
Tim BKSDA Kalimantan Tengah telah bekerja selama sekitar delapan hari untuk mengendalikan kebakaran di kawasan tersebut. Api bahkan sempat tidak terlihat selama dua hari.
Namun, kondisi itu tidak bertahan lama.
Bara yang masih tersimpan di bawah permukaan kembali memicu api. Sherina melihat sendiri bagaimana kondisi gambut membuat petugas sulit memastikan kebakaran benar-benar berakhir.
Ia juga menyoroti banyaknya bara yang masih berada di bawah tanah.
Petugas kemudian melakukan pembasahan kembali atau rewetting untuk meningkatkan kadar air gambut. Cara tersebut membantu menekan risiko api kembali muncul dari bagian tanah yang masih menyimpan panas.
Asap Tebal Menguras Tenaga Petugas
Sherina juga merasakan langsung dampak asap karhutla sejak perjalanan menuju Kalimantan Tengah.
Ketika pesawat mendekati Palangka Raya, kabut asap sudah terlihat cukup pekat. Sherina bahkan mencium bau asap ketika masih berada di dalam pesawat.
Ia kemudian memakai masker karena asap mulai membuat tenggorokannya terasa tidak nyaman.
Kabut asap juga mengganggu jarak pandang. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi perjalanan udara menuju wilayah terdampak.
Situasi di darat tidak kalah berat.
Petugas harus bekerja di tengah udara panas, asap tebal, dan medan gambut yang sulit. Mereka membawa selang dan peralatan menuju titik api sambil terus mencari sumber bara.
Sherina ikut merasakan besarnya tenaga yang petugas keluarkan selama proses tersebut.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa karhutla tidak selesai hanya dengan menyiram api yang terlihat. Tim harus mencari titik panas, membasahi tanah, serta memastikan bara tidak kembali berkembang.
Sherina Beri Dukungan kepada Pejuang Karhutla
Selain membantu pemadaman, Sherina membawa perhatian publik kepada para petugas yang bekerja di garis depan.
Ia memperlihatkan bagaimana tim lapangan harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengendalikan kebakaran. Sebagian petugas bahkan harus bertahan dan menginap di sekitar lokasi agar mereka dapat segera menangani api yang kembali muncul.
Sherina juga menyalurkan bantuan logistik bagi personel yang menangani karhutla.
Melalui aksi tersebut, ia ingin memperkuat dukungan kepada mereka yang terus menjaga kawasan hutan, masyarakat sekitar, serta satwa liar dari ancaman kebakaran.
Karhutla Juga Mengancam Habitat Orangutan
Persoalan karhutla di Kalimantan tidak hanya menyangkut asap yang mengganggu aktivitas manusia.
Api juga mengancam kawasan hutan yang menjadi habitat berbagai satwa liar.
BOS Foundation memiliki perhatian besar terhadap perlindungan orangutan dan habitatnya. Karena itu, kebakaran di sekitar kawasan konservasi membawa risiko serius bagi satwa serta ekosistem.
Sherina sudah lama menunjukkan perhatian terhadap isu lingkungan dan perlindungan satwa.
Keterlibatannya dalam penanganan karhutla kali ini mempertemukan isu kebakaran hutan dengan upaya konservasi orangutan.
Ia juga menekankan pentingnya kerja bersama untuk melindungi masyarakat dan satwa liar yang menghadapi dampak karhutla.
Lahan Gambut Membuat Pemadaman Semakin Sulit
Karakter tanah gambut menjadi salah satu penyebab utama petugas sulit mengendalikan kebakaran.
Lapisan gambut memiliki material organik yang dapat menyimpan bara jauh di bawah permukaan.
Ketika bagian atas terlihat aman, panas masih dapat bertahan di bagian bawah. Angin dan kondisi kering kemudian memberi kesempatan kepada bara untuk kembali berkembang.
Sherina merasakan langsung tantangan tersebut ketika ikut melakukan pemadaman.
Kondisi ini membuat petugas tidak bisa langsung meninggalkan area setelah api menghilang. Mereka perlu terus memeriksa titik panas dan melakukan pembasahan secara menyeluruh.
Pekerjaan tersebut membutuhkan air dalam jumlah besar, tenaga manusia, koordinasi, serta waktu panjang.
Aksi Sherina Munaf Dorong Kepedulian Publik
Kehadiran Sherina di lokasi karhutla membawa perhatian lebih besar terhadap kondisi Kalimantan Tengah.
Ia menggunakan jangkauan media sosialnya untuk memperlihatkan perjuangan petugas dan relawan. Ia juga memperlihatkan kondisi asap serta tantangan pemadaman lahan gambut.
Aksi tersebut memberi gambaran nyata kepada masyarakat bahwa karhutla bukan sekadar kumpulan titik api yang muncul dalam data.
Di balik setiap kebakaran, terdapat petugas yang bekerja berjam-jam, masyarakat yang menghirup asap, satwa yang kehilangan habitat, serta ekosistem yang menghadapi kerusakan.
Sherina juga ikut dalam gerakan bersama Powerful Voices dan sejumlah lembaga untuk memperluas dukungan terhadap penanganan karhutla.
Api Padam Belum Tentu Menandakan Perjuangan Selesai
Pengalaman Sherina Munaf di Kalimantan Tengah menunjukkan satu hal penting: hilangnya api dari permukaan belum tentu menandakan kebakaran benar-benar selesai.
Bara di dalam gambut dapat terus bertahan dan kembali menyala.
Petugas karena itu harus menjaga lokasi, mencari titik panas, serta terus melakukan pembasahan.
Sherina merasakan langsung betapa melelahkan proses tersebut. Ia juga melihat dedikasi petugas dan relawan yang tetap bekerja meskipun menghadapi asap, panas, dan medan berat.




