
malangtoday.id – Justin Gaethje kembali membuat dunia UFC ramai. Sang juara kelas ringan kini menyebut Conor McGregor sebagai salah satu lawan yang ingin ia hadapi sebelum mengakhiri karier.
Gaethje baru saja mencapai salah satu pencapaian terbesar dalam kariernya. Ia merebut sabuk juara kelas ringan UFC setelah mengalahkan Ilia Topuria dalam laga utama UFC Freedom 250 di White House pada Juni 2026.
Menariknya, Gaethje tidak langsung mengejar pertandingan ulang dengan lawan lama. Ia justru mengarahkan perhatian kepada McGregor.
Keinginan tersebut muncul setelah hubungan panas antara kedua petarung semakin menarik perhatian. McGregor juga pernah melontarkan komentar tajam mengenai kemampuan Gaethje.
Kini, Gaethje memiliki kesempatan membalas semua perkataan tersebut melalui pertarungan di Octagon.
Justin Gaethje Pilih Conor McGregor
Gaethje memiliki beberapa opsi untuk mempertahankan gelar kelas ringan. Nama Max Holloway dan Charles Oliveira sempat masuk dalam pembicaraan karena keduanya pernah mengalahkan Gaethje.
Namun, sang juara memiliki pandangan berbeda.
Menurut Gaethje, Topuria sudah mengalahkan Holloway dan Oliveira. Karena itu, ia merasa kemenangan atas Topuria memberi semacam kepuasan atas kekalahan tersebut.
Situasi itu membuat Gaethje mengarahkan pandangan kepada McGregor. Ia menganggap pertarungan melawan bintang asal Irlandia tersebut sebagai pilihan yang menarik.
Gaethje bahkan melihat duel tersebut sebagai kesempatan untuk membungkam McGregor.
Keinginan itu tentu membuat potensi pertarungan mereka semakin panas. Keduanya memiliki karakter agresif dan sejarah komentar tajam yang bisa membangun atmosfer besar sebelum pertandingan.
Gaethje Sudah Menjadi Juara UFC
Perjalanan Gaethje menuju sabuk juara membutuhkan waktu panjang. Ia beberapa kali berada dekat dengan gelar kelas ringan UFC.
Pada 2026, Gaethje akhirnya mendapatkan momen yang ia tunggu. Ia mengalahkan Ilia Topuria dalam pertarungan perebutan gelar kelas ringan.
Kemenangan tersebut membawa Gaethje ke posisi tertinggi dalam divisi 155 pound.
Sebelumnya, Gaethje meraih sabuk interim setelah menghadapi Paddy Pimblett pada Januari 2026. Ia kemudian mendapat kesempatan menghadapi Topuria dalam pertarungan besar di White House.
Gaethje tampil agresif sepanjang pertandingan. Ia akhirnya menghentikan Topuria pada ronde keempat dan merebut gelar juara dunia.
Prestasi tersebut juga mengubah situasi kariernya. Kini, Gaethje tidak lagi mengejar gelar. Ia harus menjaga sabuk tersebut dari para penantang terbaik.
Conor McGregor Kembali ke Octagon
McGregor juga menjalani perjalanan berbeda pada 2026. Mantan juara dua divisi UFC itu kembali bertarung setelah menjalani masa panjang tanpa pertandingan.
McGregor sebelumnya mengalami cedera serius pada 2021. Cedera tersebut membuatnya menjalani pemulihan panjang sebelum kembali ke Octagon.
Pada 2026, McGregor akhirnya kembali menghadapi Max Holloway. Namun, pertandingan tersebut berakhir sangat cepat setelah McGregor mengalami cedera lutut.
Hasil tersebut membuat masa depan McGregor kembali menjadi bahan perbincangan. Ia masih memiliki satu pertandingan dalam kontraknya dan menargetkan pertarungan terakhir pada 2027.
Kondisi itu membuka peluang bagi duel McGregor melawan Gaethje.
Jika UFC menemukan kesepakatan yang tepat, pertarungan tersebut dapat menjadi salah satu laga paling menarik pada era baru kelas ringan.
McGregor Pernah Menyerang Gaethje Lewat Komentar
Persaingan Gaethje dan McGregor tidak hanya muncul karena urusan pertandingan. Keduanya juga beberapa kali saling menyindir.
McGregor pernah memberikan penilaian keras terhadap kemampuan Gaethje. Ia menyebut Gaethje mampu tampil bagus dalam kondisi tertentu, tetapi memberikan kritik tajam ketika performanya menurun.
Komentar tersebut tentu menambah bumbu dalam potensi duel mereka.
Gaethje sendiri tidak menyembunyikan ketertarikannya untuk menghadapi McGregor. Ia melihat pertarungan tersebut sebagai kesempatan menarik sebelum memasuki tahap akhir karier.
Karena itu, duel mereka memiliki nilai lebih dari sekadar perebutan gelar. Pertandingan tersebut juga membawa unsur persaingan pribadi.
Gaethje Mulai Memikirkan Akhir Karier
Usia menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan Gaethje. Ia sudah berusia 37 tahun dan akan memasuki usia 38 pada November 2026.
Gaethje sebelumnya sudah berbicara mengenai kemungkinan pensiun. Ia memahami bahwa karier seorang petarung tidak bisa berlangsung selamanya.
Meski demikian, kemenangan atas Topuria mengubah pandangannya.
Setelah menjadi juara, Gaethje menyatakan keinginan untuk kembali bertarung. Ia belum merasa selesai dengan dunia UFC.
Namun, Gaethje juga tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Ia ingin berdiskusi dengan keluarga dan tim sebelum menentukan langkah berikutnya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa Gaethje ingin menikmati sisa karier dengan lebih matang.
Cedera Membuat Gaethje Menunggu Sampai 2027
Gaethje tidak akan kembali ke Octagon dalam waktu dekat. Cedera tangan yang ia alami membuatnya membutuhkan masa pemulihan.
Ia bahkan mengungkapkan bahwa tangannya belum memungkinkan dirinya melakukan pukulan dengan normal.
Karena itu, Gaethje mengarahkan target comeback ke 2027.
Waktu pemulihan tersebut memberi UFC kesempatan untuk menyusun pertandingan besar. Promotor dapat melihat perkembangan para penantang sebelum menentukan lawan berikutnya bagi sang juara.
McGregor juga mengarah pada periode yang sama untuk pertandingan berikutnya. Kondisi tersebut membuat kemungkinan pertemuan mereka semakin menarik.
Jika kedua petarung tetap sehat dan UFC menemukan kesepakatan, pertarungan besar dapat muncul pada 2027.
Arman Tsarukyan Masuk Persaingan
Gaethje tentu memiliki pilihan lain. Arman Tsarukyan menjadi salah satu nama penting dalam persaingan kelas ringan.
Tsarukyan memiliki kemampuan gulat dan permainan ground yang sangat kuat. Ia juga sudah lama berada dalam pembicaraan perebutan gelar.
Namun, Gaethje tidak menunjukkan antusiasme besar untuk menghadapi Tsarukyan dalam waktu dekat.
Situasi tersebut membuat persaingan kelas ringan semakin menarik. UFC harus mempertimbangkan peringkat, popularitas, nilai pertandingan, serta waktu pemulihan sang juara.
Duel melawan McGregor menawarkan nilai komersial yang sangat besar. Sementara itu, pertandingan melawan penantang peringkat atas menawarkan legitimasi olahraga yang kuat.
UFC harus menemukan keseimbangan antara kedua kepentingan tersebut.
Pertarungan Gaethje vs McGregor Punya Daya Tarik Besar
Duel Gaethje melawan McGregor menawarkan banyak cerita. Keduanya memiliki gaya bertarung agresif dan kemampuan striking yang menarik.
Gaethje terkenal dengan tekanan tinggi serta tendangan keras. Ia juga memiliki daya tahan luar biasa ketika menghadapi pertarungan panjang.
McGregor memiliki gaya striking yang berbeda. Ia mengandalkan akurasi, timing, serta kemampuan membaca gerakan lawan.
Pertemuan kedua gaya tersebut dapat menciptakan pertandingan yang penuh ketegangan.
Selain kemampuan teknis, faktor popularitas juga membuat duel tersebut sangat menjanjikan. McGregor tetap menjadi salah satu nama terbesar dalam olahraga tarung.
Gaethje juga memiliki basis penggemar kuat setelah bertahun-tahun tampil dalam pertarungan besar UFC.
Gaethje Ingin Menutup Karier dengan Pertarungan Besar
Karier Gaethje sudah memasuki fase penting. Ia akhirnya meraih sabuk yang selama bertahun-tahun ia kejar.
Kini, ia dapat memilih bagaimana ingin menjalani babak terakhir kariernya.
Pertarungan melawan McGregor bisa memberikan tantangan sekaligus nilai hiburan besar. Gaethje juga memiliki kesempatan membuktikan dirinya melawan salah satu nama paling terkenal dalam sejarah UFC.
Namun, keputusan akhir tetap berada pada Gaethje, timnya, dan UFC.
Cedera membuatnya harus menunggu. Masa tersebut juga memberi kesempatan bagi sang juara untuk mempersiapkan diri secara fisik dan mental.
Pada akhirnya, Gaethje ingin menikmati setiap langkah tanpa terburu-buru.
Duel Dua Nama Besar UFC Bisa Terjadi pada 2027
Justin Gaethje kini memegang sabuk juara kelas ringan UFC. Sementara itu, Conor McGregor masih mencari momentum setelah comeback yang singkat pada 2026.
Keduanya memiliki alasan kuat untuk bertemu.
Gaethje ingin menghadapi lawan yang menarik sebelum memasuki akhir karier. McGregor membutuhkan pertandingan besar untuk membangun kembali namanya.
Karena itu, UFC memiliki peluang menghadirkan duel yang sangat menarik.
Jika kondisi kesehatan dan jadwal keduanya memungkinkan, Gaethje vs McGregor dapat menjadi salah satu pertandingan terbesar pada 2027.
Untuk sekarang, Gaethje harus fokus pada pemulihan cedera. Setelah itu, ia dapat menentukan siapa yang akan berdiri di hadapannya dalam pertahanan gelar berikutnya.
Satu hal sudah jelas. Gaethje belum ingin meninggalkan UFC tanpa satu pertarungan besar lagi.
Dan kali ini, ia ingin Conor McGregor berdiri di seberang Octagon.




