
malangtoday.id – Jakarta menjadi pusat perhatian pelaku energi terbarukan pada awal September 2026. IndoEBTKE ConEx 2026 hadir di JIEXPO Kemayoran pada 2–4 September dengan membawa tema percepatan energi terbarukan Indonesia. Salah satu perhatian menarik datang dari area Pertamina yang menampilkan berbagai inovasi energi bersih.
Pengunjung tidak hanya menemukan teknologi energi di area tersebut. Mereka juga bisa mengenal inovasi kopi geothermal dari Kamojang, Jawa Barat. Produk ini menunjukkan cara panas bumi menghasilkan manfaat langsung bagi masyarakat.
Pertamina Geothermal Energy atau PGE mengembangkan inovasi tersebut melalui pemanfaatan panas bumi untuk proses pengeringan kopi. Konsep itu membuat energi geothermal tidak hanya menghasilkan listrik. Panas bumi juga mampu mendukung kegiatan ekonomi masyarakat sekitar wilayah operasi.
IndoEBTKE ConEx 2026 Dorong Percepatan Energi Bersih
IndoEBTKE ConEx 2026 mempertemukan pemerintah, perusahaan energi, akademisi, investor, asosiasi, dan pelaku industri. Forum tersebut mengangkat tema “Indonesia Renewable Energy Acceleration: Executing Strategic Projects, Unlocking Investment, Building Resilience”.
Agenda tersebut mendorong pelaku industri untuk mempercepat proyek energi terbarukan. Selain itu, forum ini membuka ruang bagi pengembangan teknologi dan investasi baru.
Pemerintah juga mendorong penguatan ekosistem energi bersih untuk meningkatkan kemandirian energi nasional. Wakil Menteri ESDM Yuliot membuka acara pada 2 September 2026.
Setelah vakum selama tiga tahun, IndoEBTKE ConEx kembali mempertemukan berbagai pihak dalam industri energi. Diskusi tahun ini mencakup regulasi, teknologi, infrastruktur, pembiayaan, logistik, riset, dan inovasi.
Kondisi tersebut membuat area pameran memiliki peran penting. Pengunjung dapat melihat langsung berbagai solusi yang mendukung transisi energi Indonesia.
Booth Pertamina Tampilkan Inovasi Panas Bumi
Pertamina membawa semangat pemanfaatan energi bersih ke area pameran. Salah satu inovasi yang menarik perhatian berkaitan dengan panas bumi dari Kamojang.
Panas bumi memiliki peran besar dalam strategi energi bersih Indonesia. Namun, manfaatnya tidak harus berhenti pada pembangkit listrik.
PGE menunjukkan konsep pemanfaatan langsung panas bumi melalui pengolahan kopi. Inovasi tersebut memanfaatkan panas dari fluida panas bumi untuk membantu proses pengeringan biji kopi.
Dengan pendekatan tersebut, petani memperoleh alternatif teknologi untuk mengatasi tantangan proses pascapanen. Cuaca yang sulit diprediksi tidak lagi menjadi satu-satunya faktor dalam proses pengeringan.
Kehadiran kopi geothermal di booth Pertamina juga membawa pesan sederhana. Energi bersih dapat menciptakan nilai ekonomi baru bagi masyarakat.
Kopi Geothermal Berawal dari Kamojang
Kamojang memiliki hubungan panjang dengan pengembangan panas bumi Indonesia. Wilayah tersebut mulai mendapat perhatian untuk eksplorasi panas bumi sejak 1926.
PGE kemudian mengembangkan wilayah Kamojang sebagai salah satu pusat operasi panas bumi. Dari kawasan inilah muncul inovasi Geothermal Dry House untuk membantu petani kopi.
Teknologi tersebut menggunakan panas dari steam trap sebagai sumber panas alternatif. Sistem itu membantu petani mengeringkan biji kopi dalam kondisi yang lebih terkendali.
Sebelumnya, petani sangat bergantung pada sinar matahari. Perubahan cuaca dapat menghambat proses pengeringan dan memengaruhi kualitas hasil panen.
Geothermal Dry House menghadirkan pendekatan berbeda. Petani dapat mengatur proses pengeringan dengan sumber panas yang lebih stabil.
Proses Pengeringan Kopi Jadi Lebih Cepat
Inovasi geothermal memberikan dampak besar pada waktu pengeringan. Proses yang sebelumnya membutuhkan sekitar 30–45 hari kini dapat berlangsung sekitar 3–10 hari.
Percepatan tersebut memberikan peluang bagi petani untuk meningkatkan kapasitas produksi. Selain itu, waktu pengolahan yang lebih singkat dapat membantu menekan biaya operasional.
PGE mengembangkan teknologi tersebut bersama para petani kopi Kamojang melalui riset dan uji coba. Hasilnya kemudian berkembang menjadi bagian dari ekosistem Geothermal Coffee Process.
Kualitas kopi juga menjadi perhatian utama. Proses yang lebih terkendali membantu menjaga karakter biji kopi selama tahap pascapanen.
Karena itu, inovasi ini tidak hanya berbicara tentang energi. Teknologi tersebut juga menyentuh aspek pertanian, ekonomi lokal, dan peningkatan nilai produk.
Pertamina Hubungkan Energi dan Ekonomi Masyarakat
Kopi geothermal memperlihatkan konsep pemanfaatan panas bumi secara langsung. Masyarakat dapat merasakan manfaat energi tersebut melalui kegiatan ekonomi sehari-hari.
PGE bekerja sama dengan kelompok tani di sekitar Kamojang untuk mengembangkan ekosistem kopi. Program tersebut melibatkan ratusan petani lokal dan memanfaatkan lahan pertanian di kawasan sekitar wilayah operasi.
Pada 2024, program kopi tersebut mencatat penjualan green beans, roasted beans, dan ground coffee dengan nilai omzet ratusan juta rupiah. Program ini kemudian berkembang hingga membuka akses pasar internasional.
Ekspansi tersebut memperlihatkan peluang besar dari produk berbasis energi bersih. Kopi Kamojang bahkan mulai memasuki pasar Asia dan Eropa.
Dengan demikian, panas bumi memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan listrik. Energi tersebut juga dapat mendukung usaha kecil dan memperkuat ekonomi masyarakat.
Kopi Geothermal Bawa Cerita Baru dari Kamojang
Inovasi kopi panas bumi juga lahir dari kolaborasi antara PGE dan pelaku usaha lokal. Salah satu sosok yang mengembangkan inovasi tersebut ialah Muhammad Ramdhan Reza Nurfadilah atau Mang Deden.
Deden mengembangkan teknik pengolahan kopi bersama PGE. Riset tersebut berlangsung melalui berbagai percobaan untuk menemukan metode yang sesuai dengan karakter panas bumi.
Hasil pengembangan kemudian melahirkan sistem pengeringan dengan teknologi Geothermal Dry House. Sistem tersebut memanfaatkan panas bumi untuk menghasilkan kondisi pengeringan yang lebih stabil.
Kopi Arabika dari dataran tinggi Kamojang menjadi bahan utama dalam pengembangan produk. Wilayah tersebut berada pada ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut.
Menariknya, inovasi tersebut juga membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk memperluas pasar. Produk kopi geothermal dari Kamojang bahkan sudah menarik perhatian pasar luar negeri.
Panas Bumi Dorong Ekonomi Hijau
Konsep geothermal coffee memberikan gambaran tentang arah baru industri energi Indonesia. Energi terbarukan dapat menciptakan manfaat ekonomi melalui berbagai sektor.
Pertanian menjadi salah satu sektor yang bisa memperoleh manfaat tersebut. Teknologi geothermal dapat membantu petani mengatasi tantangan proses pascapanen.
Selain itu, penggunaan sumber panas dari panas bumi dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi konvensional. Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya memperkuat ekonomi hijau.
PGE juga terus mengembangkan Kamojang sebagai pusat inovasi panas bumi. Area tersebut memiliki lima unit pembangkit panas bumi dengan total kapasitas 235 megawatt.
Kapasitas tersebut membuat Kamojang memiliki posisi penting dalam sistem energi bersih Indonesia. Pada saat yang sama, program pemberdayaan masyarakat memperluas manfaat panas bumi ke sektor ekonomi lokal.
IndoEBTKE ConEx 2026 Jadi Ruang Pamer Inovasi
Kehadiran kopi geothermal di booth Pertamina memberi warna tersendiri pada IndoEBTKE ConEx 2026. Pengunjung dapat melihat bahwa inovasi energi terbarukan tidak selalu hadir dalam bentuk mesin pembangkit.
Secangkir kopi juga dapat menceritakan perjalanan teknologi energi bersih. Dari panas bumi di bawah tanah, teknologi membawa manfaat hingga ke proses pengolahan hasil pertanian.
Hal tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perusahaan energi dan masyarakat. Perusahaan membawa teknologi dan pendampingan. Sementara itu, masyarakat mengembangkan potensi ekonomi lokal.
IndoEBTKE ConEx 2026 akhirnya tidak hanya menjadi tempat bertukar gagasan. Pameran ini juga memperlihatkan berbagai contoh nyata pemanfaatan energi terbarukan.
Pertamina Perkuat Pesan Transisi Energi
Pertamina melalui PGE terus mendorong pengembangan panas bumi sebagai bagian dari transisi energi Indonesia. Perusahaan juga melihat potensi direct use sebagai peluang untuk menciptakan manfaat tambahan.
Kopi geothermal Kamojang menjadi salah satu contoh nyata pendekatan tersebut. Energi panas bumi membantu petani meningkatkan proses pengeringan sekaligus membuka peluang bisnis baru.
Ke depan, model seperti ini dapat berkembang di wilayah lain yang memiliki sumber panas bumi dan komoditas pertanian unggulan. Kolaborasi antara teknologi, petani, pemerintah, dan pelaku usaha dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih kuat.
Bagi pengunjung IndoEBTKE ConEx 2026, kopi geothermal menawarkan pengalaman yang menarik. Produk tersebut memperlihatkan bahwa energi bersih dapat hadir dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, secangkir kopi dari Kamojang membawa pesan besar tentang masa depan energi Indonesia. Panas bumi tidak hanya menerangi rumah dan fasilitas usaha. Energi tersebut juga mampu membantu petani meningkatkan nilai produk dan membuka pasar yang lebih luas.




