Xi Jinping Tegaskan Penyatuan Taiwan dengan China Tak Terbendung

malangtoday.id – Presiden China Xi Jinping mengawali tahun 2026 dengan pernyataan tegas mengenai masa depan Taiwan. Ia menyampaikan bahwa penyatuan Taiwan dengan China merupakan arus sejarah yang tidak bisa dihentikan oleh siapa pun. Xi menyampaikan pesan tersebut dalam pidato resmi akhir tahun yang menjangkau seluruh rakyat China. Melalui pernyataan ini, ia kembali menegaskan posisi Beijing terhadap isu sensitif lintas Selat Taiwan.
Xi mengaitkan penyatuan Taiwan dengan visi besar kebangkitan bangsa China. Ia menilai bahwa sejarah, budaya, dan identitas nasional menyatukan Taiwan dan daratan China. Oleh karena itu, ia menolak segala bentuk upaya yang ingin memisahkan Taiwan dari China. Pernyataan ini sekaligus memperkuat narasi pemerintah China tentang integritas wilayah nasional.
Sebagai transisi, pidato tersebut tidak hanya menyentuh isu politik. Xi juga menghubungkan penyatuan Taiwan dengan stabilitas kawasan dan masa depan generasi China berikutnya. Ia menempatkan isu Taiwan sebagai bagian penting dari agenda nasional jangka panjang.
China Perkuat Tekanan Politik dan Militer
Setelah pernyataan tersebut, perhatian publik langsung tertuju pada langkah konkret China. Beijing menggelar latihan militer besar di sekitar Selat Taiwan dalam waktu berdekatan. Latihan ini melibatkan angkatan laut, udara, dan pasukan roket. China ingin menunjukkan kesiapan militernya secara terbuka.
Melalui latihan ini, China mengirim pesan kuat kepada Taiwan dan pihak luar. Pemerintah China menegaskan bahwa mereka siap menghadapi segala bentuk tantangan terhadap kedaulatan negara. Selain itu, Beijing juga menyoroti dukungan militer asing kepada Taiwan sebagai pemicu meningkatnya ketegangan.
Sebagai kelanjutan, latihan militer tersebut memperlihatkan pola tekanan yang semakin konsisten. China tidak hanya mengandalkan diplomasi, tetapi juga kekuatan pertahanan sebagai alat penegasan sikap. Langkah ini memperkuat pesan Xi bahwa penyatuan Taiwan bukan sekadar wacana politik.
Taiwan Tegaskan Sikap dan Perkuat Pertahanan
Di sisi lain, Taiwan merespons pernyataan Xi dengan sikap tegas. Pemerintah Taiwan menegaskan bahwa masa depan pulau itu berada di tangan rakyatnya sendiri. Presiden Taiwan Lai Ching-te menekankan pentingnya demokrasi dan kedaulatan. Ia menyerukan persatuan nasional dalam menghadapi tekanan dari China.
Taiwan juga meningkatkan kesiapan pertahanan sebagai langkah antisipasi. Pemerintah mengalokasikan anggaran lebih besar untuk memperkuat militer dan sistem keamanan. Selain itu, Taiwan memperkuat kerja sama dengan mitra internasional yang memiliki kepentingan terhadap stabilitas kawasan.
Sebagai transisi, sikap Taiwan menunjukkan perbedaan tajam dengan klaim China. Taipei menolak penyatuan sepihak dan menuntut dialog yang setara. Pemerintah Taiwan menilai stabilitas kawasan hanya bisa tercapai melalui saling menghormati.
Dunia Internasional Ikuti Perkembangan dengan Cermat
Pernyataan Xi Jinping juga menarik perhatian luas dari dunia internasional. Sejumlah negara menyampaikan kekhawatiran terhadap meningkatnya ketegangan di Selat Taiwan. Mereka menilai situasi ini berpotensi mengganggu stabilitas Asia Pasifik.
Amerika Serikat dan sekutunya terus menekankan pentingnya perdamaian dan dialog. Mereka menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan menghindari eskalasi. Jepang dan negara lain di kawasan juga mengamati perkembangan ini dengan serius.
Sebagai penghubung, respons global ini menunjukkan bahwa isu Taiwan bukan hanya urusan China dan Taiwan. Ketegangan di Selat Taiwan memiliki dampak luas terhadap perdagangan, keamanan, dan politik global. Oleh karena itu, banyak negara memilih bersuara secara terbuka.
Arah Kebijakan China ke Depan
Dengan pernyataan terbaru ini, Xi Jinping memperjelas arah kebijakan China di tahun 2026. Beijing menempatkan penyatuan Taiwan sebagai prioritas strategis nasional. Pemerintah China menggabungkan pendekatan politik, ekonomi, dan militer dalam satu visi besar.
China juga terus membangun kekuatan globalnya melalui teknologi dan diplomasi. Dalam konteks ini, isu Taiwan menjadi bagian dari persaingan geopolitik yang lebih luas. Xi ingin memastikan bahwa China berdiri sebagai kekuatan utama dunia.



