
malangtoday.id – Ketua Umum PSSI Erick Thohir menunjukkan sikap tegas dalam menjaga profesionalisme federasi. Ia tidak ikut campur dalam proses pemilihan John Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia. Sikap ini memperlihatkan komitmen kuat terhadap tata kelola organisasi yang sehat.
Selain itu, PSSI menjalankan seleksi pelatih melalui mekanisme resmi. Komite Eksekutif atau Exco memimpin seluruh tahapan diskusi. Dengan cara ini, federasi memastikan keputusan lahir dari pertimbangan teknis dan strategis.
Lebih jauh, sikap Erick Thohir memperkuat kepercayaan publik. Publik melihat federasi bergerak tanpa tekanan personal maupun kepentingan tertentu. Karena itu, PSSI berhasil membangun citra transparan dalam pengambilan keputusan penting.
Exco PSSI Pegang Kendali Penuh
Wakil Ketua Umum PSSI Zainudin Amali menegaskan peran Exco dalam proses seleksi. Exco menjalankan rapat, diskusi, dan penilaian kandidat secara menyeluruh. Mereka menilai rekam jejak, visi kepelatihan, dan kecocokan dengan kebutuhan Timnas.
Sementara itu, Erick Thohir memberi ruang diskusi seluas-luasnya. Ia membiarkan Exco dan tim teknis bekerja mandiri. Dengan demikian, setiap anggota Exco bebas menyampaikan pandangan profesional.
Langkah ini mendorong proses seleksi berjalan objektif. Selain itu, mekanisme ini memperkuat budaya diskusi sehat di tubuh PSSI. Federasi pun mampu meminimalkan konflik kepentingan sejak awal.
John Herdman Masuk Kandidat Terkuat
Dalam proses seleksi, nama John Herdman muncul sebagai kandidat kuat. Pengalaman internasional Herdman menarik perhatian Exco. Ia memiliki rekam jejak membangun tim secara bertahap dan terstruktur.
Di sisi lain, Exco juga menilai pendekatan kepelatihan Herdman yang modern. Ia mengedepankan disiplin, mentalitas juara, dan pengembangan pemain muda. Karena itu, banyak pihak melihat Herdman cocok dengan proyek jangka panjang Timnas Indonesia.
Selain faktor teknis, Exco juga mempertimbangkan kesiapan Herdman beradaptasi dengan sepak bola Asia. Penilaian ini menjadi bagian penting dalam diskusi internal federasi.
Erick Thohir Baru Terlibat di Tahap Akhir
Meski tidak ikut campur sejak awal, Erick Thohir tetap memegang peran konstitusional. Ia memimpin rapat saat Exco memasuki tahap pengambilan keputusan akhir. Peran ini memastikan proses berjalan sesuai aturan organisasi.
Dengan pola ini, Erick Thohir bertindak sebagai fasilitator. Ia tidak mendikte pilihan. Ia justru mengawal keputusan kolektif agar sah secara struktural.
Karena itu, publik melihat pembagian peran yang jelas. Exco bekerja secara teknis, sementara ketua umum menjaga legitimasi keputusan.
Transparansi Jadi Pesan Utama PSSI
PSSI ingin menyampaikan pesan kuat kepada publik sepak bola nasional. Federasi ingin menegaskan bahwa keputusan penting lahir dari sistem, bukan figur. Pesan ini penting untuk membangun kepercayaan jangka panjang.
Selain itu, transparansi membuka ruang evaluasi publik. Media, pengamat, dan suporter dapat menilai proses secara objektif. Dengan cara ini, PSSI menempatkan diri sebagai organisasi modern.
Lebih dari itu, pendekatan ini memberi contoh bagi organisasi olahraga lain. Tata kelola yang bersih menjadi fondasi prestasi berkelanjutan.
Harapan Baru bagi Timnas Indonesia
Penunjukan John Herdman membawa harapan baru. Publik menantikan arah permainan Timnas di bawah kepemimpinannya. Banyak pihak berharap Herdman mampu membangun fondasi kuat dan konsisten.
Di sisi lain, sikap Erick Thohir yang menjaga jarak dari proses teknis memperkuat stabilitas federasi. Ia fokus pada visi besar, sementara tim bekerja di bidang masing-masing.
Akhirnya, PSSI menunjukkan kedewasaan organisasi. Federasi mengutamakan sistem, kolaborasi, dan profesionalisme. Dengan langkah ini, Timnas Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan bersaing di level internasional.



